Penurunan Harga Batu Bara Bisa Memukul Eksportir Kalori Rendah
Penurunan harga batu bara yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir bisa memukul eksportir yang memiliki kalori sedang dan rendah. Ini karena ada selisih pajak yang harus ditanggung mereka.
Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan ketika harga rendah, investor tetap membayar pajak dengan Harga Patokan yang lebih tinggi. Jadi ada disparitas antara HPB dan HBA. “Ini tentu berdampak, terutama bagi eksportir untuk kalori sedang dan rendah,” kata dia kepada Katadata.co.id, Selasa (6/11).
Jika harga terus turun dan rendah itu akan mendorong perusahaan mengurangi stripping ratio. Pengurangan stripping ratio ini untuk meminimalkan kerugian yang berakibat menurunnya cadangan batu bara yang ditambang.
Stripping ratio adalah besarnya volume tanah lapisan penutup yang harus dibongkar untuk mendapatkan 1 ton batu bara. Makin besar stripping ratio menunjukkan indikator yang bagus karena biaya pengupasan lebih ditekan dan batu bara yang diambil lebih banyak.
Biaya pengupasan itu adalah komponen terbesar dalam produksi batu bara. “Jadi kalau harga dalam titik rendah, untuk efisiensi perusahaan umumnya mengurangi stripping ratio,” ujar Hendra.
Seperti diketahui, harga Batu Bara Acuan November 2018 hanya US$ 97,90 per ton. Padahal, periode Oktober 2018 sebesar US$ 100,89 per ton. Harga batu bara November tersebut menjadi yang terendah selama lima bulan terakhir.
Harga batu bara mencapai level tertinggi pada Agustus, yakni US$ 107,83 per ton. Kemudian, pada September turun menjadi US$ 104,81 per ton. Lalu Oktober turun lagi menjadi US$ 100,89 per ton.
Penurunan harga itu, kata Hendra, pengaruh dari melemahnya impor Tiongkok. Di sisi lain, pasokan Indonesia berlebih.
(Baca: Harga Batu Bara November Turun ke Level Terendah dalam Lima Bulan)
Walaupun mengalami tren penurunan, secara keseluruhan Hendra mengatakan itu masih positif. “Dalam level tersebut sebagian besar atau mayoritas perusahaan mendapatkan margin keuntungan yang cukup. Sehingga jika dibandingkan waktu harga rendah US$ 60-an ke bawah, angka US$ 85-an atau US$ 90an itu dianggap level yang positif,” ujar dia.