Dari Path hingga Google+, Daftar Media Sosial yang Tutup pada 2018

Penulis: Desy Setyowati

Editor: Pingit Aria

3/1/2019, 17.30 WIB

Tak semua media sosial sukses menarik pengguna.

1.Miripnya-Logo-Path-dan-Pininterest.1.jpg
KATADATA

Media sosial seperti Facebook, Instagram dan Twitter telah menjadi candu bagi banyak orang. Namun, tak semua aplikasi media sosial sukses untuk menjaring pengguna. Setidaknya ada 5 aplikasi media sosial yang tutup sepanjang 2018.

Pertama, Yahoo Messenger yang resmi tutup pada 17 Juli 2018. Pelopor aplikasi chatting besutan Yahoo ini kalah bersaing dengan aplikasi percakapan WhatsApp, Line, hingga Facebook Messenger.

Yahoo pun memilih untuk fokus pada layanan lain. "Karena lanskap komunikasi terus berubah, kami fokus pada pembangunan dan pengenalan alat komunikasi baru yang menyenangkan dan lebih cocok bagi kebutuhan pengguna," tulis Yahoo sebagaimana dikutip dari PC Mag (17/12/2018).

Aplikasi yang disingkat YM ini lahir pada 1998 dengan nama Yahoo Pager. Setahun kemudian, namanya diganti menjadi Yahoo Messenger. Produk Yahoo yang satu ini pun sempat populer hingga memiliki ratusan juta pengguna.

Kedua, Path yang tutup pada 18 Oktober 2018. Dave Morin, Shawn Fanning, dan Dustin Mierau membangun Path pada November 2010. Saat itu, ketiganya menggalang dana senilai US$ 2,5 juta untuk mendirikan Path. Pada Februari 2011, Google berencana mengakuisisi Path senilai US$ 100 juta. Namun, tawaran itu ditolak oleh ketiganya.

(Baca: Google Dikabarkan Tutup Aplikasi Chatting Hangouts pada 2020)

Path merupakan media sosial yang fokus pada pertemanan terbatas. Awalnya, Path membatasi perkawanan pengguna hanya dengan 50 orang, namun Path kemudian menambahnya menjadi 150 orang pada 11 November 2011.

Kesan eksklusif itulah yang membuat peminat Path meningkat. Alhasil, aplikasi Path pernah diunduh 1 juta kali dalam kurun waktu 18 hari pada 11 Desember 2011. Namun, kesuksesan itu tak berlangsung lama.
"Dengan berat hati kami mengumumkan bahwa kami berhenti menyediakan layanan yang kami cintai, Path," tulis Path dalam blognya, 17 September 2018 lalu.

Ketiga, Google Plus yang ditutup pada pada awal Oktober 2018. Keputusan ini diambil karena adanya kebocoran data 500 ribu data pribadi pengguna yang ditemukan Maret 2018. Selain itu, Google melihat minat pengguna minim sehingga jejaring sosial yang dibuat pada Juli 2011 tersebut resmi ditutup.

(Baca: Path, Google+ hingga Friendster Tumbang, Tak Ada Yang Saingi Facebook)

Proses penutupan ini berjalan selama 10 bulan untuk memudahkan pengguna menyalin data mereka. “Kami akan menonaktifkan Google+ untuk konsumen,” demikian tertulis pada blog resmi Google, Selasa (9/10/2018) lalu.

Keempat, aplikasi pesan Google Allo yang ditutup pada April 2018. Padahal, aplikasi yang digadang-gadang bakal menjadi pesaing WhatsApp ini dirilis pada September 2016. 

Kepala komunikasi Google Anil Sabharwal menyampaikan, aplikasi Allo sepi peminat dan belum memenuhi target yang diharapkan perusahaan. "(Allo) secara keseluruhan belum mencapai tingkat traksi yang kami harapkan," ujar Sabharwal dikutip dari The Verge, beberapa waktu lalu (5/12/2018).

Reporter: Desy Setyowati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha