Jim Yong Kim Mundur dari Kursi Presiden Bank Dunia per 1 Februari 2019

Penulis: Hari Widowati

8/1/2019, 10.09 WIB

Selama periode 2012-2018, Bank Dunia telah menyalurkan total pinjaman US$ 278,15 miliar, level tertinggi sejak krisis finansial 2008.

Jokowi dan Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim
www.setkab.go.id
Presiden Jokowi bersama Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim, di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Rabu (4/7)

Presiden Grup Bank Dunia Jim Yong Kim menyatakan ia akan mengundurkan diri dari posisi yang dijabatnya selama 6 tahun terakhir mulai 1 Februari 2019. Selama periode 2012-2018, Bank Dunia telah menyalurkan total pinjaman US$ 278,15 miliar, level tertinggi sejak krisis finansial 2008.

Kim mengatakan, kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai Presiden Grup Bank Dunia merupakan kehormatan besar. Pasalnya, institusi tersebut memiliki individu-individu yang berdedikasi menjalankan misi untuk mengentaskan kemiskinan.

"Tugas Bank Dunia saat ini lebih penting dibandingkan sebelumnya seiring meningkatnya aspirasi masyarakat miskin di seluruh dunia dan masalah-masalah seperti perubahan iklim, wabah, kelaparan, dan pengungsi yang skala dan kompleksitasnya terus berkembang," ujar Kim dalam siaran pers di situs Bank Dunia, Senin (7/1). Selanjutnya, tugas Kim akan dilanjutkan oleh CEO Bank Dunia Kristalina Georgieva.

Di bawah kepemimpinan Kim dan dukungan dari 189 negara anggota, Bank Dunia pada 2012 menetapkan dua tujuan, yakni mengakhiri kemiskinan ekstrem pada 2030 dan mendorong kemakmuran bersama. Tujuan ini difokuskan pada 40% populasi di negara-negara berkembang.

Kedua tujuan ini menjadi panduan bagi kegiatan Bank Dunia sehari-hari. Pendanaan Grup Bank Dunia untuk masyarakat termiskin, yakni International Development Association (IDA), mencapai dua rekor perbaikan yang membuat lembaga ini mampu meningkatkan kinerjanya di wilayah yang terpapar konflik dan kekerasan.

(Baca: Menteri Luhut Ceritakan Mudahnya Tarik Investasi Setelah Pertemuan IMF)

Pada April 2018, Dewan Gubernur Bank Dunia menyetujui penambahan modal untuk IBRD dan IFC sebesar US$ 13 miliar. Selama masa jabatannya, Bank Dunia juga meluncurkan sejumlah inisiatif instrumen keuangan baru, termasuk fasilitas yang dapat memenuhi kebutuhan pembiayaan infrastruktur, mencegah wabah penyakit, dan membantu jutaan orang yang terdampak perubahan iklim, konflik, dan kekerasan. Bank Dunia juga bekerja sama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan perusahaan-perusahaan teknologi terkemuka menerapkan Famine Action Mechanism, untuk mendeteksi indikasi dan mencegah kelaparan sebelum bencana tersebut terjadi.

Presiden Kim selama masa kepemimpinannya menekankan bahwa salah satu kebutuhan terbesar bagi negara-negara berkembang adalah pembiayaan infrastruktur. Ia mendorong Grup Bank Dunia untuk memaksimalkan pembiayaan pembangunan dengan menggaet mitra di sektor swasta yang berkomitmen membangun infrastruktur yang berkelanjutan dan mampu menyesuaikan dengan iklim di negara-negara berkembang.

Setelah lengser dari jabatannya di Bank Dunia, Kim mengumumkan akan bergabung dengan sebuah perusahaan dan fokus meningkatkan investasi infrastruktur di negara-negara berkembang. Ia juga akan bergabung dengan dewan Partners In Health (PIH), organisasi yang didirikannya lebih dari 30 tahun lalu.

"Saya tidak sabar untuk bekerja kembali bersama kawan-kawan lama dan kolega di PIH untuk menghadapi isu-isu kesehatan global dan pendidikan," kata Kim. Ia juga akan melanjutkan tugasnya sebagai pengelola Brown University dan pengajar senior di Watson Institute for International and Public Affairs.

(Baca: Proyeksi Ekonomi 2019: Optimisme Pemerintah vs Pesimisme Lembaga Dunia)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha