Penjualan Lesu, Hero Tutup 26 Gerai dan PHK 532 Karyawan

Penulis: Michael Reily

Editor: Ekarina

13/1/2019, 17.05 WIB

Hero mengalami penurunan total penjualan sebesar 1% hingga kuartal III 2018 menjadi Rp 9,94 triliun, akibat turunnya penjualan bisnis makanan.

Hero
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Suasana Supermarket Hero di kawsan Permata Hijau, Jakarta Utara (14/1). PT Hero Supermarket Tbk (HERO) terpaksa harus menutup sebanyak 26 gerainya baik yang terdiri dari gerai Giant dan Hero serta harus memangkas sebanyak 523 karyawan.

PT Hero Supermarket Tbk (HERO) melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 532 karyawan menyusul penutupan 26 gerai yang berada di bawah grup perusahaan. Langkah pengurangan karyawan itu akhirnya ditempuh, sebagai upaya efisiensi akibat menurunnya penjualan HERO sepanjang 2018.

Corporate Affairs General Manager Hero Tony Mampuk menyatakan perusahaan telah menerapkan strategi yang mendukung keberlanjutan bisnis dengan memaksimalkan produktivitas kerja melalui proses efisiensi. 

"Dari 532 karyawan yang terdampak kebijakan efisiensi tersebut, 92% karyawan telah menerima dan menyepakati untuk mengakhiri hubungan kerja serta telah mendapatkan hak sesuai UU Nomor 13 tentang ketenagakerjaan," kata Tony dalam siaran pers, dikutip Sabtu (13/1).

(Baca: Beralih ke Gerai Kecil, IKEA Akan Pangkas 7.500 Karyawan)

Tony menjelaskan Hero mengalami penurunan total penjualan sebesar 1% hingga kuartal III 2018 menjadi Rp 9,94triliun, dibanding periode yang sama 2017 sebesar Rp 9,96 triliun. Penurunan itu terutama disebabkan oleh penjualan bisnis makanan yang lebih rendah daripada tahun sebelumnya. Meskipun untuk bisnis nonmakanan diakuinya tetap menunjukkan pertumbuhan yang kuat.

Sedangkan pada kuartal III 2018, penjualan bisnis makanan juga diketahui turun 6% yang mengakibatkan kerugian operasi sebesar Rp 163 miliar, lebih tinggi dibanding  kerugian pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 79 miliar. 

Karenanya, keputusan penutupan gerai dan efisiensi karyawan pada divisi food business dinilai perusahaan sebagai langkah terbaik untuk menjaga laju bisnis. Sebab, tantangan di bisnis makanan merupakan salah satu masalah yang harus dibenahi pada 2019.

(Baca juga: Tren Belanja Pangan secara Daring Terus Tumbuh)

"Kami mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga keberlangsungan usaha di masa yang akan datang," ujarnya.

Hingga 30 September 2018, perusahaan tercatat mengoreperasikan 448 gerai yang terdiri dari  59 Giant Ekstra, 96 Giant Ekspres, 31 Hero Supermarket, 3 Giant Mart, 258 Guardian Health % Beauty, dan 1 toko IKEA.

(Baca: Ace Hardware Raup Untung Rp 426 Miliar di Semester I 2018)

Reporter: Michael Reily

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha