Inalum Siapkan Empat Proyek Hilirisasi untuk Tekan Impor

Penulis: Fariha Sulmaihati

Editor: Arnold Sirait

1/2/2019, 21.53 WIB

Saat ini, Inalum masih mengimpor 500 ribu ton aluminium per tahun.

holding inalum
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk. Arviyan Arifin (kiri), Direktur Utama PT Inalum Budi Guna Sadikin (kedua kiri), Direktur Utama PT Timah Tbk. Mochtar Riza Pahlevi Tabrani (kedua kanan), Direktur Utama PT Antam Tbk. Arie Prabowo Ariotedjo (kanan) bertumpu tangan bersama seusai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) tiga perusahaan BUMN di Jakarta, Rabu (29/11). RUPSLB tiga perusahaan BUMN meliputi PT Antam Tbk., PT Bukit Asam Tbk., dan PT Timah Tbk. memutuskan menyetujui perubahan Anggaran Dasar Pers

PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) (Persero) tengah menyiapkan empat proyek hilirisasi di sektor tambang. Tujuannya untuk meningkatkan nilai tambah dan menekan impor.

Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin berharap keberadaan proyek hilirisasi ini bisa memberi efek domino yang besar. Sebagai contoh adalah hilirisasi aluminium. Setiap 3 ton bauksit yang diolah menjadi satu ton aluminium, bisa menghasilkan US$ 400 per ton.

Hlirisasi itu juga diharapkan bisa mengurangi impor aluminium Inalum yang selama ini mencapai 500 ribu ton per tahun. "Hilirisasi penting, karena nilai tambahnya besar sekali, dan perannya ke pertumbuhan ekonominya sangat besar. " kata Budi, di Jakarta, Jumat (1/2).

Adapun, proyek hilirisasi itu adalah pabrik hilirisasi bauksit yang akan dibangun Inalum dan PT Aneka Tambang (Antam) Tbk. Nilai proyek sebesar US$ 1,1 juta.

Kedua, hilirisasi nikel ore yang akan dikembangkan menjadi stainless steel oleh Antam. "Namun, belum berjalan," kata Budi.

Ketiga, hilirisasi batu bara di Peranap, Riau oleh anak usahanya Inalum yakni PT Bukit Asam Tbk. Batu bara ini diubah menjadi metanol, gas (Dimethyl Ether/DME). DME ini bisa digunakan sebagai pengganti elpiji (Liquified Petroleum Gas/LPG). Dengan begitu, negara bisa mengurangi impor dan subsidi untuk LPG.

Nilai investasi pabrik hilirisasi batu bara itu sebesar US$ 2 miliar, dengan kapasitas sebesar 4,1 miliar ton per tahun. "Kami percaya DME dari batu bara lokal bisa mnegurangi defisit neraca berjalan," ujar Budi.

(Baca: Inalum Bentuk Lembaga Riset untuk Percepat Hilirisasi Pertambangan)

Keempat, Inalum juga akan membangun pabrik hilirisasi tembaga yang bekerja sama dengan PT Freeport Indonesia. Nilai investasinya sebesar US$ 2,4 miliar.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha