Transaksi Tak Terdeteksi Bikin Sektor Seni Kurang Menonjol

Penulis: Dini Hariyanti

6/2/2019, 12.01 WIB

"Ketika negara tak tahu transaksinya di mana dan kapan terjadi, maka sektor seni ini terlihat kecil," kata Peneliti Koalisi Seni Indonesia Hafez Gumay.

Mandiri Senggigi Sunset Jazz Festival
Donang Wahyu|KATADATA
Meski ombak pasang, penonton tetap setia menyaksikan artis-artis yang tampil di panggung.

Pelaku kesenian menyatakan, aktivitas ekonomi di bidang seni pertunjukan dan seni rupa tampak kurang bergeliat bukan disebabkan ketiadaan pasar. Pemantauan pemerintah terhadap perkembangan subsektor kreatif inilah yang minim.

Peneliti Koalisi Seni Indonesia Hafez Gumay mencontohkan, kolektor mancanegara yang berminat terhadap karya pelukis Indonesia biasanya langsung menghubungi seniman bersangkutan. Alhasil, negara tidak mengetahui transaksi di antara dua pihak seperti ini.

"Ketika negara tidak tahu transaksinya ada di mana dan kapan terjadi, maka sektor seni ini terlihat kecil. Gaung seni kecil karena pemerintah tidak tahu," katanya kepada Katadata.co.id, Rabu (6/2).

Selain itu, Indonesia juga tidak memiliki balai lelang untuk produk-produk seni rupa. Padahal, imbuh Hafez, tak sedikit seniman Tanah Air yang karyanya masuk ke sejumlah balai lelang internasional. (Baca juga: Gaet Pembeli Global, Seni Pertunjukan Butuh Infrastruktur Penunjang

Tak hanya seni rupa, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) juga memasukkan seni pertunjukan sebagai satu dari 16 subsektor ekonomi kreatif (ekraf) nasional yang dinaunginya. Koalisi Seni Indonesia menyatakan, aktivitas ekonomi di bidang ini memang terbilang minim.

"Kalau konteks seni pertunjukan hanya teater dan tari memang bisa industrinya lemah. Tapi kalau mencakup musik, potensinya (secara ekonomi) ya hitung saja jumlah pertunjukan musik dalam resepsi perkawinan," ujar Hafez.

Pada 2016, produk domestik bruto (PDB) ekraf senilai Rp 922,59 triliun. Kontribusi subsektor seni pertunjukan baru 0,27 persen sedangkan seni rupa 0,22 persen. Dua bidang ini tidak termasuk dalam subsektor unggulan industri kreatif nasional.

Jumlah usaha di subsektor seni pertunjukan sedikitnya 19.772 usaha. Mayoritas atau mencapai 90 persen dari mereka berskala mikro dengan jumlah pendapatan kurang dari Rp 300 juta per tahun. Sementara di seni rupa terdapat sekitar 17.044 usaha.

(Baca juga: Seniman Turut Bertugas Memberi Pendidikan Seni kepada Publik

Khusus terkait seni pertunjukan, Bekraf mengakui porsi PDB bidang ini minim dibandingkan dengan subsektor ekraf lain. Tapi performing arts menunjukkan perkembangan menggembirakan dengan pertumbuhan 9,54 persen atau tertinggi ketiga sepanjang 2016.

Deputi Pemasaran Bekraf Joshua P.M. Simandjuntak sempat mengutarakan, pihaknya terus memfasilitasi sejumlah pelaku seni pertunjukan tampil dalam OzAsia Festival 2018. Acara ini fokus kepada seni kontemporer, seperti tari, teater, musik, seni visual dan film.

"Borak Arts Series di OzAsia Festival tahun lalu juga menjadi platform bagi pelaku kreatif seni pertunjukan lokal untuk memaksimalkan keberadaan karya mereka dari sisi bisnis,” kata Joshua.

Borak Arts Series merupakan program konferensi sekaligus pasar seni pertunjukan dalam rangkaian OzAsia Festival. Terdapat sesi pitchpad bagi seniman terpilih untuk presentasi di depan potential buyer, seperti seniman, direktur pertunjukan, direktur festival, dan investor lain.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha