Literasi Digital UMKM, Katalis Pertumbuhan Ekonomi

Penulis: Tim Publikasi Katadata

22/2/2019, 16.59 WIB

Kontribusi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia menunjukkan angka yang signifikan, yakni mencapai 60 persen.

Launching Pendidikan Vokasi di Jawa Timur
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA

Kontribusi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia menunjukkan angka yang signifikan, yakni mencapai 60 persen  terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Namun, dari besarnya kontribusi UMKM tersebut, peran dan partisipasi perempuan di dalamnya hanya 9,1 persen. Padahal, jumlah perempuan wirausaha pada 2018 mencapai 14,3 juta orang dan diperkirakan bisa terus bertambah setiap tahunnya.

Belakangan muncul beberapa perusahaan yang memiliki inisiatif untuk mendorong kontribusi peran perempuan dalam ekonomi. Salah satunya adalah Go-Jek. Pada kuartal IV 2018, Go-Jek menggandeng Muslimat Nahdhatul Ulama (NU) untuk melaksanakan Go-Jek Wirausaha demi mendorong perempuan dalam UMKM.

Kerja sama ini diinisiasi sejak pertengahan November 2018 kepada anggota Muslimat NU di Jawa Barat dengan mengimplementasikan program pelatihan berbisnis yang diberikan oleh Go-Jek kepada pelaku industri UMKM dalam bentuk kelas tatap muka.

Go-Jek melihat kemampuan teknis dalam hal digital bisa menjadi katalis terhadap pertumbuhan bisnis yang signifikan. Karena itu, fokus dari program ini adalah mengajarkan pemanfaatan teknologi untuk bisnis kepada para perempuan dan ibu rumah tangga yang merupakan anggota Muslimat NU.

Menurut Go-Jek, pemahaman perempuan terhadap penggunaan digital platform, khususnya yang berada di luar kota besar, masih rendah. Proses literasi digital yang dilakukan juga cukup sulit dan banyak menghadapi kendala. Mulai dari akses terhadap internet, hingga kemauan belajar dan mengimplementasikannya.

“Ada beberapa ibu yang datang saat pelatihan. Tapi saat proses pengaplikasian bisnis, biasanya dilakukan orang lain yang lebih muda, yang lebih paham teknologi,” kata Public Affairs Senior Associate Go-Jek, Feryan Saputra.

Selain memberikan pelatihan dasar teknologi informasi, Go-Jek Wirausaha juga memfasilitasi para peserta menjadi mitra dengan memanfaatkan platform digital layanan Go-Jek, seperti Go-Food untuk perempuan yang berwirausaha di bidang kuliner serta Go-Send untuk peserta yang berusaha di bidang pengantaran barang.

“Kami juga mengajarkan ibu-ibu bagaimana berwirausaha dari awal. Mulai dari ide hingga ke akses modal dan pemanfaatan sumber daya yang sudah dimiliki Go-Jek,” ujar Feryan.

Program ini ditujukan ke komunitas di daerah-daerah yang telah tersedia layanan Go-Jek. Hingga saat ini, program Go-Jek Wirausaha sudah dilakukan di tujuh kota di Jawa dan Bali dengan jumlah peserta sebanyak 900 orang. Sekitar 50 persen dari total peserta sudah diserap ke layanan digital platform Go-Jek.

Pemahaman teknologi informasi juga ditawarkan oleh Blibli.com yang membina komunitas UMKM lewat layanan e-commerce.

Category Manager Blibli.com, Andreas Ardian Pramaditya, mengatakan program binaan ini difokuskan untuk UMKM secara umum yang sudah memiliki produk, sehingga proses digitalisasi bisnis bisa langsung dilakukan tanpa harus terkendala pada proses ide dan produksi.

 

“Awalnya, diajarkan untuk melakukan proses pemasaran produk melalui e-commerce. Seterusnya, kami menargetkan agar pemasaran produk mereka bisa lebih maju lagi hingga ke ekspor,” katanya.

Andreas menambahkan, dengan kemampuan digital memungkinkan pelaku UMKM naik kelas, karena pintu untuk ekspor menjadi terbuka lebar. Namun, dia mengaku, masih banyak kendala yang dihadapi pelaku UMKM Indonesia. Infrastruktur internet yang belum menjangkau ke seluruh daerah di Indonesia salah satunya, sehingga masih banyak yang belum melek internet.

Mengutip data Delloite Access Economics 2015, lebih dari sepertiga total UMKM di Indonesia yang berjumlah 57 juta masih belum menggunakan fasilitas digital, sepertiga lainnya (37%) hanya memiliki kemampuan digital yang sangat mendasar, seperti komputer atau akses broadband.

Hanya sebagian kecil (18%) yang memiliki kemampuan online menengah (menggunakan web atau medsos) dan kurang dari sepersepuluh (9%) adalah bisnis online lanjutan dengan kemampuan e-commerce.

Pemerintah Indonesia terus mendorong akses UMKM terhadap penggunaan internet dan fasilitas lainnya dengan mencanangkan Gerakan 100.000 UMKM Go-Online sejak 2017. Melalui program ini, pemerintah menargetkan setidaknya 8 juta UMKM akan Go-Online pada akhir 2019. (*)

 

 

This article was produced in partnership with Investing in Women, an initiative of the Australian Government that promotes women’s economic empowerment in South East Asia.

Reporter: Tim Publikasi Katadata

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha