Minyak Sawit Diklaim Bisa Atasi Masalah Gizi Buruk dan Stunting

Penulis: Rizka Gusti Anggraini

Editor: Ekarina

6/3/2019, 21.14 WIB

Menurut sejumlah pakar, minyak sawit memiliki kandungan vitamin A dan E, serta nutrisi tinggi untuk pemenuhan gizi masyarakat.

Minyak Sawit
Agung Samosir | KATADATA
Crude Palm Oil. Produk crude palm oil yang berbahan dasar kelapa sawit dari kabupaten Landak di stand Provinsi Kalimantan Barat pada pameran Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) di Ji-Expo, Kemayoran, Jakarta, Rabu (15/5).

Sejumlah pakar mengatakan minyak kelapa sawit dapat menjadi solusi dalam mengatasi masalah gizi buruk dan stunting di Indonesia. Sebab, minyak kelapa sawit bernutrisi tinggi. Namun, informasi positif tersebut kerap tertutupi oleh isu negatif. 

Kepala Pusat Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center Institut Pertanian Bogor Nuri Andarwulan mengatakan minyak kelapa sawit yang merupakan bahan baku minyak goreng mengandung hampir 50% asam lemak jenuh dan hampir 50% lemak tidak jenuh serta omega 9.

(Baca: Efek Negosiasi AS-Tiongkok, Permintaan Sawit Tahun Ini Bakal Turun)

Selain itu, komposisi asam lemak minyak kelapa sawit mirip dengan kandungan Air Susu Ibu (ASI), sehingga kandungan asam lemak ini bisa menjadi sumber asam lemak susu formula. Namun, hal itu belum banyak diketahui orang. “Itu sebabnya negara maju seperti Eropa dan Amerika Serikat menekan komoditas sawit," kata Nuri.

Dibanding minyak nabati lain, minyak kelapa sawit juga memiliki kandungan karoten (vitamin A), tokoferol dan tokotrienol (vitamin E) yang tinggi. Bahkan, dibanding minyak kedelai, kandungan tokotrienol minyak sawit dua kali lipat lebih tinggi. "Khasiat ini yang kerap disembunyikan oleh negara yang tidak menyukai minyak kelapa sawit," katanya.

Ketua Umum Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI) Darmono Taniwiryono juga mengungkapkan khasiat lain dari minyak kelapa sawit. Menurutnya, minyak sawit merah bila diolah dengan baik bisa menajadi solusi lain mengatasi permasalahan gizi buruk.

Olahan sawit merah telah dimulai sejak 5.000 tahun lalu dengan teknik ekstraksi. Hanya saja, di Indonesia pemanfaatannya belum maksimal.

(Baca: Ditopang Pasar Non-utama, Ekspor Sawit Indonesia Januari 2019 Naik 4%)

Padahal, minyak kelapa sawit merah bisa dipakai sebagai campuran minyak makan. “Sudah dapat dikonsumsi untuk makanan olahan dan pakan ternak juga,” kata Darmono.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga mengatakan kandungan vitamin A dalam minyak kelapa sawit bisa menanggulangi stunting. Bisa kita memanfaatkan minyak sawit merah yang alami itu. 

(Baca: Harga Sawit Fluktuatif, Pemerintah Tunda Pungutan Ekspor )

Untuk menanggulangi masalah kesehatan, dia mendorong pemerintah untuk mengubah pemakaian minyak goreng dari curah menjadi kemasan serta melarang peredaran minyak jelantah.

"Pemerintah jangan lagi mundur dari kewajiban minyak goreng kemasan," katanya.

Reporter: Rizka Gusti Anggraini

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan