Telkomsel Akan Pertahankan Jaringan 2G dan 4G, Bagaimana Nasib 3G?

Penulis: Martha Ruth Thertina

1/5/2019, 04.32 WIB

Jaringan 3G dikeluarkan dari roadmap di antaranya lantaran kinerja jaringan yang tidak stabil.

Telkomsel mengeluarkan jaringan 3G dari roadmap bisnisnya.

Perusahaan telekomunikasi Telkomsel tidak berniat untuk mematikan jaringan 2G dalam waktu dekat. Ini berbanding terbalik dengan pesaingnya, XL Axiata, yang berencana menonaktifkan jaringan tersebut seiring turunnya pelanggan terkait. Sejauh ini, peta jalan (roadmap) bisnis Telkomsel adalah mempertahankan jaringan 2G dan 4G.

Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah mengatakan, pihaknya memang mengurangi spektrum 2G tapi pemanfaatan jaringan tersebut masih sangat longgar sehingga pelanggan terkait dipastikan tetap terlayani dengan baik. “Tidak ada intensi (untuk mematikan),” kata dia dalam Media Gathering di Bali, Selasa (30/4).

Keputusan tesebut seiring masih banyaknya masyarakat yang menggunakan telepon selular (ponsel) biasa – bukan ponsel pintar – dengan teknologi 2G. Ini sedikit banyak tercermin dari kontribusi pendapatan layanan suara dan SMS yang masih tinggi, yakni mencapai 39% pada kuartal I 2019, sedangkan layanan data mencapai 61%.

(Baca: Layanan Melonjak Saat Lebaran, Telkomsel Bangun 10 Ribu BTS 4G)

Meski belum berniat mematikan jaringan 2G, namun Ririek menyatakan pihaknya akan memfasilitasi migrasi dari jaringan 2G ke 4G. Strategi yang disiapkan di antaranya layanan migrasi jaringan tanpa perlu ke Grapari dan pembelian ponsel pintar dengan cicilan yang ringan. “Nanti akan kami fasilitasi sehingga migrasi jadi lebih mudah dan terjangkau,” ujarnya.

Direktur Jaringan Telkomsel Bob Apriawan menjelaskan, dalam roadmap-nya saat ini, Telkomsel memilih untuk mempertahankan jaringan 2G dan 4G. Roadmap selanjutnya -- setelah meluncurkan 5G -- perusahaan akan mengoperasikan jaringan 2G, 4G, dan 5G. “Selanjutnya lagi, 4G dan 5G,” ujarnya.

Lantas, bagaimana nasib jaringan 3G? Seiring dikeluarkannya jaringan 3G dari roadmap, Bob mengatakan pihaknya terus mendorong migrasi dari jaringan tersebut ke 4G. Adapun alasan dikeluarkannya jaringan 3G dari roadmap di antaranya lantaran kinerja jaringan tersebut tidak stabil. 

Menurut Bob, perusahaan telekomunikasi di negara lain juga banyak yang memilih untuk mempertahankan 2G dan 4G, tanpa 3G. "Ini pilihan," kata dia. Namun, ia tidak memerinci target waktu Telkomsel atas rencana tersebut.

Kebutuhan Jaringan 5G Belum Cukup Besar

Telkomsel sudah mulai melakukan uji coba jaringan 5G. Meski begitu, jaringan ini tampaknya belum akan segera diluncurkan untuk mendukung layanan telekomunikasi di Tanah Air. Penyebabnya, kebutuhan akan jaringan ini belum cukup besar.

Dengan kebutuhan yang belum cukup besar, investasi di jaringan ini belum cocok secara hitungan bisnis. “5G masih ada isu bagaimana monetize-nya,” kata Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah. Masalah lainnya, ketersediaan spektrum untuk jaringan tersebut.

Sebelumnya, Telkomsel melakukan uji coba jaringan 5G untuk operasional mobil tanpa awak saat penyelenggaraan Asian Games 2018 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Jaringan 5G memang disebut sebagai faktor kunci pengembangan teknologi Internet of Things (IoT) yang berguna di antaranya untuk realisasi mobil tanpa awak.

(Baca: Frekuensi Diatur Oktober, Indosat dan XL Axiata Siapkan Jaringan 5G)

Ririek menjelaskan, bila kebutuhannya cukup besar dan spektrum tersedia, maka pihaknya siap menjadi yang terdepan untuk mengimplementasikan 5G. “Sekarang masih too early,” ujarnya.

Menurut dia, ada beberapa hal yang menyebabkan kebutuhan akan jaringan ini belum cukup besar. Pertama, IoT belum banyak dikembangkan. Adapun dalam pengembangan mobil tanpa awak, IoT bukan satu-satunya teknologi yang bisa digunakan. Ada opsi lain yaitu onboard chip.

Pengembangan mobil tanpa awak juga mempunyai tantangan lantaran mobil tersebut baru bisa optimal untuk jalanan yang khusus digunakan mobil tanpa awak. Maka itu, bila diimplementasikan, kemungkinan baru di kawasan tertutup, misalnya untuk mobilitas karyawan atau logistik.

Lebih jauh, Ririek mengatakan, pengembangan IoT juga masih bisa didukung oleh jaringan yang ada. “Bisa disolusikan, 4.9 G itu bisa,” kata dia.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan