Pengemudi Ojek Online Antusias Belajar Keuangan dan Investasi Obligasi

Penulis: Pingit Aria

27/6/2019, 01.00 WIB

Mereka diajarkan untuk menghindari jerat rentenir dan iming-iming investasi bodong.

Gojek menggandeng Jouska Indonesia untuk memberikan pelatihan pengelolaan keuangan khusus mitra driver di Jakarta, Rabu (26/6). Pelatihan serupa juga digelar di Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar.
Gojek
Gojek menggandeng Jouska Indonesia untuk memberikan pelatihan pengelolaan keuangan khusus mitra driver di Jakarta, Rabu (26/6). Pelatihan serupa juga digelar di Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar.

Keterampilan mengelola keuangan idealnya tak hanya dikuasai oleh mereka yang berpenghasilan tinggi. Justru, lapisan masyarakat dengan penghasilan pas-pasan seperti pengemudi ojek online harus lebih ketat mengelola keuangannya. Dengan begitu, mereka dapat memenuhi kebutuhan dengan baik dan terhindar dari ‘bencana’ keuangan.

“Dengan penghasilan ojek online, jika dikelola dengan baik, bukan tak mungkin asetnya bisa melebihi pegawai kantoran,” kata Farah Dini Novita, CO-CEO Jouska Indonesia dalam pelatihan pengelolaan keuangan bagi mitra Gojek di Jakarta, Rabu (26/6).

Ia pun membagikan tips pengelolaan keuangan bagi pengemudi ojek online yang penghasilan hariannya tak tetap. Pertama, catat seluruh pengeluaran, dari mulai belanja kebutuhan pokok, kebutuhan anak, hingga cicilan.

Setelah mengetahui jumlah pengeluaran, pengemudi tersebut dapat menentukan target pendapatan yang harus dikejarnya.

(Baca juga: Mitra Pengemudi Dukung Diskon Ojek Online Ditentukan Mekanisme Pasar)

Selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Dini juga menganjurkan mitra pengemudi untuk memiliki asuransi jiwa dan kesehatan. Dengan begitu, jika sang pengemudi atau keluarganya sakit, arus kas akan tetap terjaga.

Jika terpaksa berutang, Dini menganjurkan agar menggunakan jasa lembaga keuangan resmi, seperti bank. Dengan begitu, mereka akan terhindar dari jerat bunga tinggi rentenir. Selain itu, cicilan utang hendaknya tak lebih dari 30% penghasilan.

Dini juga menganjurkan para pengemudi untuk menabung dan berinvestasi. Yang penting, investasi harus dilakukan secara bijak. Kuncinya, jangan mudah tergiur dengan janji keuntungan yang di luar akal sehat.

“Banyak di antara korban investasi bodong itu dari kelas menengah ke bawah. Bukannya makin sejahtera, mereka justru makin sengsara kalau uangnya dilarikan,” kata Dini.

Ia mencontohkan, salah satu instrumen investasi yang aman adalah Surat Utang Negara (SUN). Instrumen ini juga dinilainya terjangkau karena nilai minimumnya hanya Rp 1 juta dengan return yang umumnya di atas bunga deposito.

(Baca juga: Pesaing Gojek dan Grab Dukung Pembatasan Diskon Tarif Ojek Online)

Pengemudi yang hadir pun tampak antusias. Salah satunya Pak Bujang, yang langsung bertanya di mana dia bisa turut membeli Obligasi Ritel Indonesia (ORI). “Jadi dari pada negara utang ke asing, kan lebih baik ke kita saja. Ada bunganya pula,” kata dia sembari tersenyum, usai acara.

Program ini merupakan salah satu inisiatif dalam Bengkel Belajar Mitra (BBM) Gojek. Pingkan Irwin, Head of Communications Transport Marketing Gojek menyatakan, mitra pengemudi merupakan garda depan sekaligus bagian penting dalam ekosistem perusahaan.

“Melalui BBM kali ini kami memfasilitasi pelatihan agar mitra Gojek terampil mengelola keuangan sehingga semakin mapan dan aman secara finansial,” ujarnya.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan