Investor Singapura Akuisisi 70% Kepemilikan Pusat Data XL Axiata

Penulis: Desy Setyowati

3/7/2019, 20.13 WIB

Keduanya membentuk perusahaan patungan yang diberi nama Princeton Digital Group Data Centres.

pusat data PT XL Axiata,
ANTARA FOTO/Reno Esnir
ilustrasi, Presiden Direktur XL Axiata Dian Siswarini (tengah) dan jajaran direksi (dari kiri-kanan) Direktur Abhijit Navalekar, Direktur Mohamed Adlan bin Ahmad Tajudin, Direktur Yessie D. Yosetya dan Direktur Allan Bonke berfoto bersama usai RUPS Tahunan PT XL Axiata Tbk. di Jakarta, Senin (29/4/2019).

Investor, pengembang dan operator infrastruktur internet asal Singapura, Princeton Digital Group (PDG) mengakuisisi 70% kepemilikan bisnis layanan pusat data PT XL Axiata Tbk. Keduanya pun membentuk perusahaan patungan (joint venture) yang diberi nama Princeton Digital Group Data Centres.

Perusahaan patungan tersebut akan menjadi operator pusat data yang melayani operator, korporasi dan unicorn di Indonesia. Chairman sekaligus CEO Princeton Digital Group Rangu Salgame optimistis, perusahaan ini bakal tumbuh signifikan.

Rangu mengatakan, kolaborasi ini bertujuan untuk memperbesar kapasitas pusat data yang sudah ada. “Kami juga ingin membangun satu hyperscale pada akhir tahun ini,” kata dia dalam siaran pers, Rabu (3/7).

(Baca: Trafik Data Telkomsel dan XL Axiata Melonjak 57% Selama Lebaran)

Ia optimistis, Princeton Digital Group Data Centres bakal menjadi pemimpin pasar di Indonesia. Perusahaan ini juga memiliki tujuan untuk meningkatkan kompetensi infrastruktur internet secara global. “Pengumuman hari ini adalah langkah penting untuk mencapai tujuan tersebut," katanya.

Presiden Direktur dan CEO XL Axiata Dian Siswarini mengatakan, perusahaan menyambut baik kemitraan ini. "Pengetahuan dan sepak terjang kami dikombinasikan dengan keahlian dan pengalaman PDG menjadikan entitas baru ini sebagai mitra pilihan untuk para penyedia layanan digital berskala besar dan perusahaan multinasional,” katanya.

Apalagi, ekonomi digital Indonesia diproyeksi akan mendominasi Asia Tenggara pada 2025. Nilai pasar ekonomi digital Indonesia pun diproyeksi meningkat dari US$ 27 miliar di 2018 menjadi US$ 100 miliar,” kata dia.

(Baca: Siap Konsolidasi, XL Axiata Persoalkan Aturan Frekuensi)

Dian mencatat, penyedia layanan komputasi awan (cloud) untuk umum di dunia pun membangun beberapa hub strategis di pasar. Contohnya, Alibaba Cloud, Amazon Web Services, dan Google Cloud.

Pusat data, menurutnya telah menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi digital. Kajian Technavio menunjukkan, pertumbuhan majemuk tahunan (CAGR) pasar layanan pusat data di Asia Tenggara diproyeksi tumbuh 14% selama 2017 hingga 2021.

(Baca: Operator Asal Norwegia, Telenor dan Axiata Berencana Merger)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan