Thorcon Tunggu Restu Kementerian ESDM Bangun Pembangkit Listrik Nuklir

Penulis: Fariha Sulmaihati

Editor: Sorta Tobing

18/7/2019, 09.00 WIB

Pembangkit listrik tenaga nuklir ini rencananya beroperasi pada 2027 dengan nilai investasi Rp 17 triliun.

pembangkit listrik tenaga nuklir
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi. Thorcon International Pte Ltd masih menunggu persetujuan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir.

PT PAL Indonesia (Persero) dan Thorcon International Pte Ltd saat ini sedang mengkaji pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dengan kapasitas 500 megawatt (MW). Namun, untuk mulai membangun pembangkit itu masih membutuhkan izin dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Chief Representative Thorcon Indonesia Bob S. Effendi mengatakan, saat ini pihaknya bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian ESDM untuk mengkaji implementasi PLTN. Harapannya, Juli ini kajian tersebut dapat rampung.

"Jika kajiannya selesai, ini bisa jadi rekomendasi untuk pemerintah memberikan izin. Sehingga di 2027 PLTN sudah bisa beroperasi," ujarnya, saat ditemui di Jakarta, Rabu (17/7).

Apabila pembangkit tersebut berhasil dibangun, maka Indonesia akan memiliki PLTN pertama. Bob menjelaskan belum teralisasinya pembangkit tenaga nuklir karena kebijakan pemerintah yang maju mundur untuk membangun pembangkit ini.

Apalagi dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN), nuklir menjadi opsi terakhir untuk bauran energi terbarukan. Bahkan tenaga nuklir tidak dimasukan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenag Listrik (RUPTL). "Memang kan masalahnya maju mundur tidak karuan. Dengan adanya PP 79 pembahasan PLTN jadi gamang," kata dia.

(Baca: PT PAL Kembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Laut )

Selain itu, adanya narasi tentang pembangkit listrik tenaga nuklir yang dinilai berbahaya, dan tarif listrik yang mahal. Hal tersebut diluruskan oleh Bob, misalnya saja PLTN yang direncakan dibangun menggunakan teknologi Thorium Molten Salt. Bahan baku yang digunakan berasal dari thorium yang dicairkan, sehingga tidak menimbulkan tekanan dalam tabung. Teknologi ini lebih aman apabila terjadi bencana alam.

Sedangkan, Indonesia memiliki thorium yang berlimpah di Pulau Bangka, dan Kalimantan. Thorium selama ini tidak dimanfaatkan dan hanya menjadi limbah. Jadi bisa dipastikan biaya operasional pembangkit, dan tarif listrik yang dihasilkan akan lebih murah.

Adapun PAL dan Thorcon telah merencanakan pembangunan PLTN terapung. PLTN akan diletakan di atas kapal, lalu ditenggelamkan di kedalaman 10 meter. Kapal tersebut nantinya memiliki panjang 174 meter dan lebar 66 meter, atau setara dengan tanker kelas Panamax, yang akan dibuat oleh Daewoo Shipyard and Marine Engineering (DSME) di Korea Selatan. Sedangkan untuk reaktor dan komponen pendukung lainnya dibuat oleh PT PAL.

Diharapkan pada 2020 proyek ini mulai dibangun. Adapun biaya investasi yang dikeluarkan sebesar US$ 1,2 miliar atau setara dengan Rp 17 triliun.

(Baca: Arcandra Godok Bangun Pembangkit Tenaga Nuklir, Opsinya di Babel)

Reporter: Fariha Sulmaihati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha