Kisah Startup Gagal yang Membuat Temasek hingga Murdoch Merugi

Penulis: Hari Widowati

21/8/2019, 07.00 WIB

Salah satu kasus penipuan terbesar melibatkan startup bidang kesehatan, Theranos. Investor dirugikan hingga US$ 750 juta atau sekitar Rp 10,5 triliun.

Ilustrasi digital
123rf
Beberapa startup yang memperoleh pendanaan besar di Amerika Serikat (AS) akhirnya bangkrut karena salah kelola, kalah bersaing, atau terjerat masalah hukum.

Pesatnya perkembangan internet membuat sejumlah perusahaan rintisan (startup) teknologi muncul sebagai unicorndecacorn atau bahkan raksasa internet, seperti Facebook Inc, Alibaba, hingga Grab dan Gojek. Mereka sukses menggalang pendanaan dari pasar modal maupun dari para investor privat.

Namun, tak sedikit pula perusahaan rintisan yang semula berprospek kemudian bangkrut karena kasus penipuan (fraud), salah strategi, atau salah kelola (mismanajemen). Berikut ini kisah empat startup gagal yang membuat para investornya merugi ratusan juta dolar Amerika Serikat (AS).

1. Solyndra

Solyndra adalah perusahaan rintisan yang didirikan oleh Christian Gronet pada 2005. Perusahaan ini mendesain, memproduksi, dan menjual panel atap surya dengan sistem photovoltaic. Perusahaan mengklaim mampu menghasilkan listrik lebih besar dibandingkan panel atap surya konvensional.

Panel yang diproduksi Solyndra berbentuk tabung yang menggunakan teknologi copper indium gallium selenide (CIGS), bukan panel datar seperti panel atap surya pada umumnya. Hingga 2008, perusahaan ini memasang lebih dari 1 miliar meter persegi panel atap surya di Amerika Serikat (AS).

Solyndra memiliki sejumlah investor besar, antara lain George Kaiser Family Foundation, US Venture Partners, Redpoint Ventures, hingga Virgin Green Fund yang merupakan anak usaha Virgin Group milik Richard Branson. Total modal yang ditanamkan para investor ini diperkirakan mencapai US$ 1,22 miliar.

Pada 2009, Solyndra mendapatkan pinjaman US$ 535 juta yang dijamin oleh Departemen Energi AS. Namun, perusahaan itu ternyata menggunakan informasi yang tidak akurat dalam pendaftarannya. Akibatnya, pemerintah AS merugi US$ 528 juta.

Pada 2009-2011 harga polisilikon yang menjadi bahan baku bagi teknologi panel surya turun sekitar 89%. Para pesaing Solyndra memanfaatkan hal ini untuk membuat produk yang lebih murah. Teknologi CIGS kalah bersaing, kondisi keuangannya memburuk karena banyak pengeluaran yang tidak tepat, seperti membeli robot yang bisa bersiul dan spa yang ditempatkan di pabriknya. Pada 2011, perusahaan menghentikan segala aktivitas produksi, memberhentikan 1.100 karyawan, dan mengajukan pailit.

Departemen Keuangan AS membuka penyidikan terhadap Solyndra untuk membuktikan apakah perusahaan dan manajemen menyalahgunakan pinjaman yang diberikan pemerintah. Pemerintahan Barack Obama mengkhawatirkan rencana restrukturisasi perusahaan yang dilakukan Departemen Energi. Dari hasil restrukturisasi ini terbentuk Rocket Renewables pada 2013.

(Baca: Startup Digitalisasi Warung, Wahyoo Target 13 Ribu Mitra Tahun Ini)

2. Arrivo

Arrivo adalah perusahaan transportasi alternatif yang menggunakan teknologi masa depan, yakni hyperloop. Perusahaan ini didirikan pada 2016 oleh Brogan BamBrogan, mantan pendiri Hyperloop One dan Chief Engineer di SpaceX.

Arrivo ingin membangun sistem levitasi magnetik (magnetic levitation) di Colorado yang dapat menggerakkan kendaraan dari pusat kota Denver ke Bandara Internasional Denver dan sebaliknya dengan kecepatan 322 km per jam. Transportasi tersebut akan dibangun dalam tiga tahun. Investasi untuk membangun jalur hyperloop ini mencapai US$ 15 juta.

Arrivo juga memiliki sejumlah investor besar, seperti Plug and Play Ventures dan Trucks VC. Pada Juli 2018, perusahaan mengumumkan telah menerima komitmen pinjaman US$ 1 miliar dari Genertec America, anak usaha BUMN infrastruktur asal Tiongkok. Namun, perusahaan akhirnya tutup pada Desember 2018 karena tak mampu mendapatkan pendanaan seri A yang dipersyaratkan oleh calon kreditornya.

(Baca: Dorong 1000 Startup, Kominfo Siapkan Berbagai Program Edukasi)

4. Jawbone

Jawbone adalah perusahaan teknologi yang mengembangkan dan menjual produk teknologi yang bisa dipakai (wearable technology), seperti peranti audio portabel, pengeras suara nirkabel, dan bluetooth headsets. Perusahaan ini didirikan pada Maret 1998 di San Francisco dengan nama AliphCom oleh Alexander Asseily dan Hosain Rahman.

AliphCom lahir di saat perusahaan-perusahaan internet di AS tumbuh pesat hingga menjadi gelembung dalam perekonomian. Pada 2002, Aliph mendapat kontrak dari perusahaan riset militer AS, DARPA, untuk mempermudah para prajurit berkomunikasi dalam kondisi yang sulit (perang). Perusahaan mengembangkan headset untuk ponsel yang mampu mengurangi suara bising.

Pada Juni 2002, perusahaan mendapatkan suntikan modal US$ 1,5 juta. Investor awalnya antara lain Mayfield Fund. Aliph mengumumkan produk headset nirkabel bermerek Jawbone di Consumer Electronics Show pada Januari 2007. Pada Juli 2007, perusahaan mendapat investor baru Khosla Ventures yang menanamkan dana US$ 5 juta.

Aliph mulai ekspansi pada 2008 setelah mendapat suntikan modal US$ 30 juta dari Sequoia Capital. Perusahaan meluncurkan bluetooth headset pada Mei 2008 dan mulai menjual produknya di Apple Store.

Selang empat tahun kemudian, Jawbone menjadi unicorn dengan valuasi US$ 1,5 miliar. Ketika Apple meluncurkan iPhone 5 pada September 2012, mereka juga mengumumkan lightning connector dari Jawbone sebagai pengeras suara nirkabel dengan koneksi bluetooth dan AirPlay.

(Baca: Dua Startup Lulusan Alibaba Netpreneur Garap Pasar Logistik RI)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN