Data Ekonomi Tiongkok Bagus, Harga Minyak Terkerek Hingga 4%

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Ratna Iskana

5/9/2019, 08.27 WIB

Tiongkok adalah konsumen minyak terbesar kedua dan importir terbesar di dunia.

harga minyak
KATADATA
Ilustrasi, kilang minyak. Harga minyak kembali naik setelah keluarnya data bisnis jasa Tiongkok yang naik dalam tiga bulan terakhir pada Agustus 2019.

Harga minyak naik lebih dari 4% pada perdagangan Kamis (5/9) pagi karena data ekonomi Tiongkok yang positif. Harga minyak kembali melambung setelah tiga hari berturut-turut terus melemah akibat tekanan ekonomi global.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent naik US$ 2,44, atau 4,2%, menjadi US$ 60,70 per barel. Sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 2,32, atau 4,3%, menjadi US$ 56,26. Harga minyak WTI mencatatkan kenaikan terbesar harian sejak 10 Juli 2019.

Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh perusahaan swasta, aktivitas bisnis di sektor jasa Tiongkok berkembang dengan cepat dalam tiga bulan terakhir pada Agustus 2019. Hal tersebut mendorong kenaikan perekrutan karyawan terbesar dalam setahun terakhir.

Ekonomi Tiongkok yang kembali menggeliat membawa senntimen positif bagi permintaan minyak mentah dunia. Apalagi Tiongkok adalah konsumen minyak terbesar kedua dan importir terbesar di dunia. 

(Baca: Trump Ingin Balas Lagi Tiongkok dengan Menggandakan Tarif)

Di sisi lain, stok minyak mentah Amerika Serikat diperkirakan turun selama tiga minggu berturut-turut. Biarpun begitu, beberapa analis menilai fundamental pasar minyak masih mengecewakan.

"Namun harga minyak tetap fokus pada perang dagang dan semakin lama kita tidak melihat tanggal yang terjadwal untuk pertemuan tatap muka antara pejabat Tiongkok dan AS, semakin besar kemungkinan kita bisa melihat pengujian ulang dari posisi terendah harga minyak pada musim panas," ujar Analis pasar senior di OANDA New York Edward Moya dalam sebuah laporan.

Apalagi Presiden AS Donald Trump memperingatkan Tiongkok bawah dirinya akan lebih keras kepada Beijing dalam masa jabatannya yang kedua jika pembicaraan perdagangan berlarut-larut. Hal ini menambah kekhawatiran pasar terhadap perselisihan perdagangan kedua negara yang dapat memicu resesi AS.

Data AS yang dirilis Selasa menunjukkan aktivitas manufaktur pada bulan Agustus terkoreksi untuk pertama kalinya dalam tiga tahun. Sedangkan aktivitas zona euro menyusut untuk bulan ketujuh. Chief Financial Officer BP Plc (BP.L) Brian Gilvary mengatakan kepada Reuters  bahwa permintaan minyak global diperkirakan akan tumbuh kurang dari 1 juta barel per hari (bopd) pada tahun 2019 karena konsumsi yang melambat.

(Baca: Trump Peringatkan Lagi Tiongkok Tak Terus Mengulur Perundingan Dagang)

Reporter: Verda Nano Setiawan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan