Dukung Nadiem Hapus UN, Jokowi Singgung Evaluasi Sistem Pendidikan RI

Penulis: Ameidyo Daud

12/12/2019, 16.53 WIB

Mulai 2021, pemerintah akan menggantikan UN dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter.

jokowi, UN dihapus, nadiem makarim
ANTARA FOTO/Moch Asim
Sejumlah siswa mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) susulan di SMK Negeri 2 Surabaya, Jawa Timur, Rabu (19/4). Presiden Joko Widodo menyetujui langkah Mendikbud Nadiem Makarim yang akan menghapus UN mulai 2021.

Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyetujui langkah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim yang akan menghapus Ujian Nasional mulai 2021. Jokowi beralasan tanpa adanya UN akan sampai mana sebenarnya perkembangan sistem pendidikan RI.

Mulai 2021, pemerintah akan menggantikan UN dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter yang akan mengukur kemampuan nalar siswa. Dari dua penilaian baru tersebut, akan terlihat mana institusi pendidikan yang harus diperbaiki kualitasnya.

“Bisa jadi sebuah evaluasi, pendidikan kita ini sampai ke level yang mana,” kata Jokowi dilansir dari laman Setkab.go.id, Kamis (12/12).

(Baca: Resmi Hapus UN Tahun 2021, Nadiem Siapkan Evaluasi Nalar Siswa)

Nantinya, pemerintah pusat akan membantu teknis perbaikan sistem baik rotasi guru maupun penganggaran. “Kalau bisa meningkatkan kualitas akan kami jalani terus,” kata Jokowi.

Nadiem beralasan materi UN terlalu berat dan malah memaksa siswa menghafal materi. Selain itu pelaksanaannya kerap membuat guru hingga pelajar terbebani sehingga tak jarang dilanda stress.

Ia menjelaskan metode baru ini akan mengukur kemampuan siswa menganalisa dan bernalar dalam bahasa (literasi) dan matematika (numerasi).

“Jadi bukan penguasaan konten yang diukur tapi kemampuan kompetensi dasar,” kata Nadiem.

(Baca: Bantah Jusuf Kalla, Nadiem Sebut Penghapusan UN Tak Buat Siswa Lembek)

Pendiri Gojek itu juga menyampaikan survei karakter bertujuan untuk mengetahui ekosistem sekolah. Dia mengatakan selama ini belum ada data yang jelas bagaimana nilai Pancasila diterapkan di sekolah. “Ini untuk penguatan pendidikan karakter,” ujar dia.

Berbeda dengan UN, model ujian baru ini akan dilakukan siswa di tengah jenjang sekolah. Diharapkan hasilnya dapat mendorong guru dan sekolah untuk memperbaiki mutu pembelajaran ke depannya.

Reporter: Antara

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan