Pengusaha Khawatir Pandemi Corona Tekan Harga Minyak Sawit

Penulis: Rizky Alika

Editor: Agustiyanti

26/3/2020, 19.17 WIB

Perlambatan ekonomi dunia akibat wabah virus corona diperkirakan berdampak pada permintaan harga minyak sawit dan harga CPO.

harga minyak sawit, cpo, gapki, pandemi corona
ANTARA FOTO/Rahmad
Ilustrasi. Wabah virus corona diperkirakan turut berimbas pada ekspor sawit Indonesia ke Tiongkok.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia khawatir pandemi corona akan menekan harga minyak nabati, termasuk minyak sawit. Apalagi, wabah ini diperkirakan akan berlangsung dalam waktu yang panjang.

"Ini menyebabkan perlambatan kegiatan ekonomi global yang berakibat pada penurunan konsumsi minyak nabati, terutama minyak nabati yang diimpor," ujar Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono seperti dikutip dari siaran pers, Kamis (26/3).

BNPB memperkirakan pandemi virus corona di Indonesia akan berlangsung hingga Lebaran. Sementara banyak pakar dunia memperkirakan puncak pandemi corona akan terjadi pada Mei-Juni.

Kondisi ini, menurut dia, diperparah oleh situasi politik-ekonomi dunia akhir-akhir ini. Harga minyak bumi menjadi tidak menentu karena ketidaksepakatan antara negara pengekspor minyak atau OPEC dengan Rusia.

(Baca: Pasokan Melimpah, Ekspor Sawit Januari Turun 35,6%)

Sementara dari dalam negeri, Indonesia akan masuk pada musim kemarau yang menjadi rawan terhadap kebakaran hutan dan lahan. "Ini menjadi momok yang menakutkan," ujar dia.

Pembukaan lahan dengan membakar oleh masyarakat harus dapat dihindari, meski peraturan perundangan masih memperolehkannya untuk lahan di bawah 2 hektar. Di sisi lain, perusahaan perkebunan perlu memperkuat kembali koordinasi dengan instansi terkait.

"Dengan koordinasi yang baik dan keterlibatan lebih banyak masyarakat, diharapkan karhutla tahun ini dapat ditekan, bahkan dihindari," kata dia.

(Baca: Khawatir Dirugikan, Petani Sawit Minta Pemerintah Tak Lakukan Lockdown)

Wakil Ketua Umum Gapki Togar Sitanggang sebelumnya memperkirakan wabah virus corona akan berimbas pada penurunan ekspor CPO Indonesia ke Tiongkok. Namun, hal tersebut bisa menguntungkan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan biodiesel 30% atau B30.

Apalagi, pemerintah juga bakal menguji coba program B40. Artinya, kebutuhan minyak sawit untuk pencampuran bahan bakar solar akan semakin besar.

Gapki mencatat, ekspor CPO ke Negeri Panda berkisar 5 juta ton pada 2019. "Misalnya potensi ekspor hilang 1 juta ton, ada kebutuhan B30 dan B40 bisa menolong pasokan sawit dalam negeri," kata dia.

Reporter: Rizky Alika

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan