BI Tahan Bunga Acuan 4,5% demi Jaga Rupiah di Tengah Gejolak Corona

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Agustiyanti

19/5/2020, 14.36 WIB

BI turut mempertahankan bunga fasilitas simpanan dan bunga pinjaman masing-masing 3,75% dan 5,25% guna menjaga stabilitas rupiah di tengah pandemi corona.

Bank Indonesia, suku bunga, bunga acuan, penurunan bunga
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Ilustrasi. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini lebih rendah dari proyeksi semula.

Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan sebesar 4,5%. Kebijakan BI ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian akibat pandemi virus corona. 

Suku bunga fasilitas simpanan alias deposit facility  tetap 3,75% dan bunga pinjaman atau lending facility  juga tak berubah di 5,25%.

"Dengan berbagai asesmen dan pertimbangan terhadap perekonomian global, makro, stabilitas keuangan, dan berbagai aspek, rapat dewan gubernur BI pada 18-19 Mei 2020 memutuskan untuk mempertahankan BI 7 Days Reverse Repo Rate sebesar  4,5%," kata Gubernur BI Perry Wrjiyo dalam konferensi video di Jakarta, Selasa (19/5).

Perry menjelaskan keputusan ini dibuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian akibat pandemi virus corona. Namun, BI melihat adanya ruang penurunan suku bunga seiring perkembangan inflasi dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi. 

(Baca: Ancang-ancang Menghadapi Bank Gagal Akibat Pandemi Corona)

Ia menjelaskan nilai tukar rupiah pada bulan ini berangsur menguat. Hingga 18 Mei 2020, rupiah telah menguat 0,17% dibandingkan akhir April, tetapi masih terdepresiasi 6,9% dibandingkan akhir tahun lalu. 

"Inflasi April tetap rendah didukung stabilitas perekonomian dan melemahnya permintaan selama dampak covid-19. Inflasi  secara year to date tercatat 2,76%," ujar Perry. 

Sementara pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini hanya mencapai 2,97 %, jauh di bawah proyeksi BI dan pemerintah sebelumnya di kisaran 4%.

BI sebelumnya telah menurunkan suku bunga acuannya sebanyak dua kali pada tahun ini masing-masing 25 bps pada Februari dan Maret 2020. Selain menurunkan bunga, BI telah menginjeksi likuiditas ke perbankan melalui kebijiakan quantitative easing mencapai Rp 583,5 triliun. 

(Baca: BI Pilih Pelonggaran Kuantitatif, DPR Dorong Cetak Uang, Apa Bedanya?)

Injeksi likuiditas, antara lain dilakukan melalui pembelian SBN  sekunder, fasilitas term repo ke perbankan, penurunan GWM rupiah,  BI pun akan memastikan kecukupan likuiditas dalam rangka mendukung pemulihan ekonomi nasional dan restrukturisasi kredit perbankan. 

BI memperkirakan ekonomi global tercatat negatif 2,2% pada tahun ini, tetapi akan membaik tahun depan dan diproyeksi tumbuh 5,2%. Sementara ekonomi domestik diperkirakan akan menurun, lebih rendah dari proyeksi semula, tetapi diperkirakan tumbuh lebih baik pada 2021.

Stabilitas sistem keuangan terjaga meski terdapat potensi dampak pandemi virus corona tetap harus diwaspadai. Perry menyebut, rasio kecukupan modal bank terjaga pada Maret di kisaran 21,63%, rasio kredit bermasalah tetap rendah 2,77% secara gross dan 1,02 persen secara netto. 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan