IHSG Turun Tipis 0,04% di Tengah Aliran Masuk Dana Asing Rp 377 Miliar
Indeks harga saham gabungan atau IHSG mengakhiri perdagangan Selasa (7/7) terkoreksi tipis 0,04% ke level 4.987,08. Indeks kembali gagal menembus level 5.000 meskipun modal asing mengalir masuk deras ke pasar saham domestik sebesar Rp 377,43 miliar.
Mayoritas modal asing masuk melalui pasar negosiasi/tunai sebesar Rp 288,02 miliar, sedangkan Rp 89,41 miliar masuk melalui pasar reguler. Saham Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dan Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi dua saham buruan investor asing dengan net buy masing-masing Rp 147,2 miliar dan Rp 115,9 miliar.
Saham TLKM ditutup naik 2,3% ke Rp 3.120 per saham, sedangkan saham BBCA ditutup pada level Rp 2.9950 per saham atau naik 0,93%. Keduanya termasuk dalam dua sektor yang menahan laju koreksi indeks yakni infrastruktur yang naik 0,66% dan keuangan naik 0,12%.
Sektor lainnya yang juga menahan laju koreksi IHSG yaitu pertanian yang naik 0,42%. Adapun total perdagangan saham hari ini mencapai 10,13 miliar saham dengan nilai Rp 7,96 triliun. Sebanyak 138 saham naik, 286 saham turun dan sisanya tak berubah.
(Baca: Sesi I Hanya Naik 0,06% ke 4.991, IHSG Masih Berpeluang Tembus 5.000)
Kinerja indeks dalam negeri sejalan dengan kinerja bursa saham utama di kawasan Asia. Hanya indeks Shanghai Composite Tiongkok yang berhasil naik sebesar 0,37%. Lainnya seperti Hang Seng Hong Kong rontok 1,38%, diikuti indeks Straits Times Singapura turun 1,13%, Kospi Korea Selatan merosot 1,09%, serta Nikkei 225 Jepang turun 0,44%.
Koreksi didorong kekhawatiran investor terkait terus bertambahnya jumlah kasus Covid-19 di dunia. Bahkan sejumlah negara kembali menerapkan kebijakan karantina wilayah atau lockdown untuk menahan gelombang penyebaran virus, seperti yang terjadi di Australia.
Meski demikian investor terus menaruh harapan terhadap stimulus yang digelontorkan berbagai negara untuk membalikkan kondisi ekonomi.
“Investor mengabaikan data tambahan kasus baru corona di Amerika Serikat (AS) dan berbagai negara lainnya seperti Israel, tapi laporan data ekonomi yang suram bisa saja mengubah sentimen investor,” kata analis ING, Nicholas Mapa, seperti dikutip MarketWatch.
(Video Bicara Data: Celah Berinvestasi Di Masa Krisis Covid-19)
