MRT Kembangan-Balaraja Masuk Tahap Baru, Pendanaan Jadi Penentu

Muhammad Almer Sidqi
21 Agustus 2026, 14:23
Jumlah penumpang angkutan umum di Jakarta meningkat
ANTARA FOTO/Fauzan/tom.
Calon penumpang menunggu kedatangan Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta di Stasiun Blok M BCA, Jakarta, Jumat (3/7/2026). Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat jumlah penumpang angkutan umum di Jakarta meningkat secara tahunan pada Mei 2026, dengan rincian penumpang MRT Jakarta mencapai 3,85 juta orang atau naik 5,03 persen, LRT Jakarta sebanyak 119.185 orang atau naik 11,23 persen, dan Transjakarta mencapai 35,5 juta orang atau naik 6,98 persen.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Rencana pembangunan MRT Kembangan-Balaraja memasuki tahap baru. Pemerintah Kabupaten Tangerang mulai menyiapkan tata ruang, sementara Pemerintah Provinsi Banten dan DKI Jakarta menyelesaikan studi kelayakannya. 

Proyek ini dirancang membentang sekitar 30 kilometer dari Kembangan, Jakarta Barat, hingga Balaraja, Kabupaten Tangerang, dengan 14 stasiun dan satu depo di Balaraja. Jalur tersebut merupakan bagian dari pengembangan MRT Lintas Timur-Barat yang menghubungkan kawasan Jakarta dengan wilayah penyangga di Banten.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Tangerang, Erwin Mawandy, mengatakan studi kelayakan MRT Kembangan-Balaraja masih berjalan. Kajian tersebut mencakup aspek kelembagaan, teknis, dan terutama pembiayaan proyek.

Menurut dia, hasil studi akan menjadi dasar untuk menentukan model pendanaan yang paling memungkinkan. “Dalam studi kelayakan itu, dari sisi pembiayaan diukur yang paling feasible, apakah pembiayaannya dari pemerintah atau bahkan ada potensi kontribusi dari para pengembang,” kata Erwin, seperti dikutip dari Antara, Jumat (21/8). 

Kebutuhan untuk menentukan skema pembiayaan menjadi salah satu tahapan krusial karena pembangunan MRT memerlukan investasi besar. Hingga saat ini, belum ada anggaran pembangunan yang disepakati untuk proyek Kembangan-Balaraja. PT MRT Jakarta sebelumnya menaksir studi pengembangan jalur tersebut membutuhkan waktu sekitar delapan hingga 10 bulan. 

Pada Februari 2026, PT MRT Jakarta juga menggandeng sejumlah pengembang properti untuk mengkaji pengembangan MRT Kembangan-Balaraja. Kolaborasi ini diarahkan untuk mendukung pembangunan kawasan berorientasi transit atau transit oriented development (TOD) sekaligus mencari model pembiayaan yang lebih efisien.

Sambil menunggu studi kelayakan rampung, Pemkab Tangerang mempercepat revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Pemerintah daerah itu ingin memastikan rencana pembangunan MRT dan sistem transportasi pengumpannya sudah memiliki dasar kebijakan yang jelas.

Erwin mengatakan integrasi MRT dengan Bus Rapid Transit (BRT) juga menjadi salah satu perhatian utama. BRT nantinya diarahkan sebagai angkutan pengumpan yang menghubungkan kawasan permukiman dengan stasiun-stasiun MRT. “Program BRT/MRT itu akan menjadi salah satu masukan muatan dalam RTRW sebagai bentuk kesiapan kami,” ujarnya.

Rancangan jalur MRT tersebut mencakup sejumlah kawasan di Tangerang, antara lain Balaraja, Cibadak, Pasir Gadung, Otonom, Bunder, Kadu, Bencongan, Danau Ranau, Kelapa Dua, Kebon Nanas, Panunggangan, Kunciran, Hasyim Ashari, hingga Karang Tengah.

Jika terealisasi, MRT Kembangan-Balaraja berpotensi mengubah pola mobilitas sekaligus perkembangan kawasan di sepanjang koridor Jakarta-Banten.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebelumnya menyebut proyek ini penting bagi kawasan aglomerasi yang dihuni sekitar 42 juta penduduk. Ia berharap pembangunan dapat dimulai dalam satu hingga dua tahun apabila proses studi berjalan lancar.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Antara

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...