Kogas Lakukan Studi Lanjutan Potensi Gas dari Batu Bara di Indonesia

Anggita Rezki Amelia
5 Juli 2018, 15:12
Pipa gas
Arief Kamaludin|KATADATA

Korea Gas Corporation (KOGAS) bersama Pusat Penelitian dan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) akan melakukan kajian lanjutan tentang potensi sumber daya gas dari batu bara (Coal Bed Methane/CBM) di Indonesia. Sebelumnya perusahaan asal Korea itu sudah menyelesaikan kajian awal.

Direktur Jenderal minyak dan gas bumi (migas) Kementerian ESDM Djoko Siswanto mengatakan untuk mendetailkan hasil studi pertama itu, perlu dilakukan studi tahap kedua. Adapun studi pencarian potensi CBM ini dilakukan di Sumatera dan Kalimantan.

Hasil studi kedua akan dievaluasi menjadi data lelang wilayah kerja nonkonvensional. "Saya tadi sudah minta izin mereka, apakah hasil studi ini bisa kami gunakan untuk dijadikan blok-blok CBM di Indonesia. Mereka bilang bisa," kata Djoko dalam acara 7th Gas Working Group and The 10Th Indonesia-Korea Energy Forum, di Jakarta, Kamis (5/7).

Kerja sama kajian ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang ditandatangani Kogas dan Lemigas pada November 2017 lalu. Harapannya kajian itu bisa menemukan lapangan-lapangan CBM yang ekonomis dikembangkan.

Untuk membuat proyek ekonomis, Kementerian ESDM pun sudah menyiapkan skema kontrak gross split. Dengan skema itu, kontraktor yang mengembangkan proyek CBM bisa memperoleh penambahan bagi hasil 16%.

Skema itu pun sudah diminati beberapa kontraktor.  Menurut Djoko, ada tiga kontraktor yang bersedia mengganti kontrak menggunakan kontrak gross split, dari sebelumnya cost recovery. Namun ia belum mau merinci nama perusahaannya.

Namun, memang ada tantangan dalam pengembangan CBM. Salah satunya masalah lahan karena CBM dibutuhkan area pengeboran yang banyak.

Jadi kontraktor yang memenangkan lelang blok CBM disarankan bisa langsung membeli lahan agar harga tidak melambung. "Sedapat mungkin kalau ada nih pemenang blok CBM itu sekaligus beli lahan di atasnya, jadi properti dia. Kadang kalau mau dibebaskan harga jadi melonjak," kata dia.

Selain itu, Djoko berharap kementerian terkait yang terkait pembebasan lahan bisa memberi kemudahan pembebasan meski ada Undang-undang Nomor 2 tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. "Kalau lahan sudah milik orang itu susah, dan mau tidak mau harus negosiasi," kata dia.

Sementara itu, berdasarkan data Kementerian ESDM cadangan gas metana batubara (CBM) yang ada di Indonesia pada 2016 mencapai 453 triliun kaki kubik (Tcf). Potensi ini lebih besar dibandingkan cadangan gas konvensional yang hanya 170 Tcf.

(Baca: Pengembangan CBM Diklaim Hemat Impor Elpiji Rp 28 Triliun per Tahun)

Potensinya ini juga lebih besar dibandingkan negara produsen batubara lain, seperti Australia. Di negeri Kanguru itu cadangan CBM sebanyak 350 Tcf.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Anggita Rezki Amelia

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...