Imbas Sanksi Barat, Laba Raksasa Migas Gazprom Rusia Turun 43%
Perusahaan minyak milik negara Rusia Gazprom Neft (SIBN.MM) melaporkan laba bersih kuartal kedua tahun ini menjadi 140,1 miliar rubel atau US$ 1,5 miliar. Keuntungan senilai Rp 22,9 triliun tersebut turun 43% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan keuntungan Gazprom disebabkan penyusutan penjualan. Reuters melaporkan perusahaan minyak global mengalami penurunan laba sekitar setengahnya dibandingkan tahun lalu. Penyebabnya, konflik bersenjata Rusia-Ukraina yang membuat harga minyak dan gas (migas) dunia melonjak.
Sejak konflik bersenjata Rusia-Ukraina pada Februari 2022, perusahaan-perusahaan Rusia belum mengungkapkan hasil keuangan mereka secara teratur. Gazprom Neft yang memproduksi minyak tidak mempublikasikan hasil keuangannya tahun lalu.
Adapun perusahaan gas raksasa Rusia, Gazprom (GAZP.MM), melaporkan total pendapatan April-Juni turun menjadi 821,6 miliar rubel dari 835,8 miliar rubel pada periode yang sama tahun 2022.
Saham Gazprom Neft naik tipis 0,4% pada awal perdagangan di Moskow. Kantor berita Interfax mengatakan laba enam bulan perusahaan melebihi ekspektasi analis.
Sektor energi Rusia berada di bawah tekanan akibat sanksi Barat yang diberlakukan atas tindakan Moskow di Ukraina. Kebijakan tersebut mencakup pembatasan harga dan embargo terhadap pembelian minyak Rusia yang diangkut melalui kargo laut.
Namun, produksi dan ekspor minyak negara tersebut tertopang oleh peningkatan signifikan dalam penjualan ke Cina dan India, yang secara politik dianggap dekat dengan Moskow.
Adapun nilai perdagangan antara Cina dan Rusia melonjak signifikan sepanjang tahun 2022 yakni mencapai 1,2 triliun yuan atau setara Rp 2,88 kuadriliun. Lonjakan ini salah satunya didorong oleh komoditas minyak dan gas alam yang terkena sanksi embargo dari negara-negara barat.
Gazprom menyampaikan torehan impor liquefied petroleum gas (LPG) ke Cina lewat jalur pipa Power of Siberia naik 50%. Upaya Rusia untuk melipatgandakan ekspor LPG ke Cina merupakan bagian dari upaya diversifikasi ekspor energi di tengah sanksi Uni Eropa (UE).
Reuters juga mencatat Impor minyak mentah Rusia ke Cina juga meningkat 10% secara tahunan atau hampir 80 juta ton dalam kurun waktu 11 bulan pertama 2022.
Juru bicara Administrasi Umum Kepabeanan Cina, Lyu Daliang, menyampaikan kegiatan ekspor dan impor Cina dari Rusia tahun 2022 menyumbang 3% dari total perdagangan Cina.
Pengiriman barang maupun produk Cina ke Rusia juga meningkat selama enam bulan berturut-turut. Data bea cukai Cina pada Jumat (13/1) mencatatkan ekspor naik 8,3% dari bulan yang sama tahun lalu, kendati turun dari kenaikan November 17,9%.
