Produksi Gas Lampaui Target, Bahlil Tahan Ekspor untuk Penuhi Kebutuhan Domestik

Mela Syaharani
11 Agustus 2025, 17:36
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan paparan kinerja Kementerian ESDM pada semester I 2025 di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (11/8/2025). Bahlil Lahadalia menyampaikan realisasi investasi di sektor ESDM pada
ANTARA FOTO/Fauzan/nym.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan paparan kinerja Kementerian ESDM pada semester I 2025 di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (11/8/2025). Bahlil Lahadalia menyampaikan realisasi investasi di sektor ESDM pada semester I 2025 mencapai 13,9 miliar dolar AS atau setara dengan Rp225,8 triliun, sedangkan realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) di sektor ESDM mencapai Rp138,8 triliun atau 54,5 persen dari target.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan Indonesia belum mengimpor gas pada tahun ini. Di sisi lain, produksi gas dalam negeri akan difokuskan untuk kebutuhan domestik sehingga dirinya masih menahan ekspor komoditas tersebut.

“Kita masih mampu mengelola antara komitmen ekspor dengan luar negeri dan pemenuhan konsumsi dalam negeri,” kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers capaian kinerja semester 1 2025, Senin (11/8).

Berdasarkan catatan Kementerian ESDM produksi gas sebanyak 1.146,4 mboepd atau 114% dari target. Rata-rata produksi gas pada Semester I 2025 mencapai 1.199,7 MBOEPD atau 119% dari target.

Sementara itu, sepanjang semester 1 2025, sebanyak 5.598 BBTUD gas sudah dimanfaatkan di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 31% atau 1.721 BBTUD untuk ekspor, sementara 69% atau 3.877 BBTUD dimanfaatkan oleh domestik.

Bahlil mengakui, Indonesia saat ini memang masih menahan sebagian ekspor gas. “Karena kami ingin menahan neraca komoditas. Perintah Bapak Presiden adalah memanfaatkan semaksimal mungkin seluruh produk dalam negeri untuk kebutuhan domestik,” ujarnya.

Dia menyampaikan jika kebutuhan domestik sudah terpenuhi dan masih ada kelebihan pasokan gas maka akan diekspor. Menurutnya, Indonesia juga tetap menghargai berlangsungnya kontrak perusahaan migas (KKKS) yang sudah dilakukan sebelum proses produksi berjalan.

“Harus kami hargai, kalau tidak itu merugikan persepsi global terhadap negara kita. Sampai sekarang kami masih gas rem (ekspor),” ucapnya.

Di sektor domestik, pemanfaatannya dibagi kembali menjadi dua sektor yakni hilirisasi untuk industri dan pupuk 2.110 BBTUD serta sektor domestik lain sebanyak 1.767 BBTUD, yang mencakup BBG,  peningkatan produksi migas, ketenagalistrikan, LNG, LPG, dan Jargas.

Bahlil mengatakan pemenuhan gas untuk hilirisasi dapat mendatangkan nilai tambah dalam negeri, menghemat devisa, mendatangkan berbagai pajak serta menjaga pertumbuhan ekonomi di daerah tempat pembangunan pabrik.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...