Pasokan Gas Tersendat, Bahlil Alihkan Sebagian Alokasi Ekspor untuk Domestik

Mela Syaharani
22 Agustus 2025, 13:41
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan paparan kinerja Kementerian ESDM pada semester I 2025 di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (11/8/2025). Bahlil Lahadalia menyampaikan realisasi investasi di sektor ESDM pada
ANTARA FOTO/Fauzan/nym.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan paparan kinerja Kementerian ESDM pada semester I 2025 di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (11/8/2025). Bahlil Lahadalia menyampaikan realisasi investasi di sektor ESDM pada semester I 2025 mencapai 13,9 miliar dolar AS atau setara dengan Rp225,8 triliun, sedangkan realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) di sektor ESDM mencapai Rp138,8 triliun atau 54,5 persen dari target.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengalihkan sebagian alokasi ekspor gas untuk memenuhi kebutuhan domestik atau dalam negeri. Beberapa waktu lalu, pasokan gas bumi yang dialirkan melalui jaringan pipa untuk industri di wilayah Jawa Barat dan Sumatra mengalami gangguan.

Dia mengatakan gangguan pasokan gas domestik terjadi setelah adanya insiden kebakaran pipa yang ada di Subang, Jawa Barat. Bahlil memastikan saat ini pemerintah telah mendapatkan alokasi gas baru untuk mengatasi kondisi tersebut.

“Sebenarnya tidak ada masalah sampai sekarang, kan? sudah clear. Jadi sebagian dari (jatah) ekspor tidak kami lakukan,” kata Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia saat ditemui di Kementerian ESDM, Jumat (22/8).

Selain pengalihan alokasi gas eskpor, pemenuhan kebutuhan domestik juga dilakukan dengan mengerahkan produksi gas dari sumber-sumber yang baru.

“Kemudian kami supply untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, terkait dengan pipa yang terbakar,” ujarnya.

Peristiwa kebakaran pipa ini terjadi di Gas line CO2 Removal, Stasiun Pengumpul Subang, Desa Cidahu, Kecamatan Pagaden Barat Kabupaten Subang milik PT Pertamina EP Subang Field. Insiden ini terjadi sekitar pukul 04.30 WIB Selasa (5/8).  

Melakukan skema swap

Untuk menjaga stabilitas pasokan dalam negeri, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) melakukan mekanisme swap gas multi-pihak mulai dialirkan per 22 Agustus 2025. 

Perjanjian swap gas multi-pihak tersebut melibatkan berbagai kontraktor hulu migas dan pembeli gas, antara lain West Natuna Supply Group (Medco E&P Natuna Ltd., Premier Oil Natuna Sea B.V., Star Energy (Kakap) Ltd.), South Sumatra Sellers (Medco E&P Grissik Ltd., PetroChina International Jabung Ltd.), PT Pertamina (Persero), PGN, Sembcorp Gas Pte Ltd., dan Gas Supply Pte Ltd. Perjanjian ini disusun melalui koordinasi erat antar semua pihak untuk memastikan kepentingan seluruh pihak tetap terjaga. 

“Pengaliran swap gas multi-pihak ini memastikan tambahan pasokan untuk kebutuhan industri dalam negeri dapat terjaga dengan baik,” kata Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto dalam siaran pers, Jumat (22/8). 

Berdasarkan perjanjian tersebut, gas dengan volume 27 BBTUD dari West Natuna Gas Supply Group akan dipasok ke PGN, melalui pengaliran oleh Medco E&P Grissik Ltd. dan PetroChina International Jabung Ltd. 

“Skema ini hanya mungkin terlaksana melalui kerja sama erat antara kontraktor hulu, pembeli gas, dan pemerintah. Dengan langkah ini, stabilitas pasokan domestik tetap terjamin, sementara kontrak lain yang sudah berjalan tetap terlaksana,” ujar Djoko.

Dia menyampaikan tambahan gas ini bukan berarti semua industri atau industri baru akan mendapat gas. Pasokan ini untuk menjaga industri eksisting tetap mendapatkan gas.

Djoko meminta semua pihak harus memahami bahwa minyak dan gas bumi adalah energi tak terbarukan, yang akan habis jika tidak ada penemuan baru.  Meskipun tingkat penemuan eksplorasi di Indonesia telah meningkat dari 10 : 1, menjadi 10 : 3, namun risiko tidak ditemukan migas masih 70%. 

Apalagi pada umumnya, temuan eksplorasi, khususnya gas, berada di remote area terutama offshore. “Biaya eksplorasi sangat mahal, dengan risiko dry hole 70%,” katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...