Produksi Tambang Grasberg Freeport Turun 70% Imbas Longsor
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan produksi tambang Grasberg Block Cave milik PT Freeport Indonesia (PTFI) mengalami penurunan produksi hingga 70% setelah terjadinya longsor yang menyebabkan 7 pekerja terjebak di bawah tanah. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara, Tri Winarno, mengatakan hal itu karena perusahaan menghentikan sementara operasi tambang.
Longsor lumpur bijih basah terjadi di area tambang bawah tanah di kawasan Grasberg Block Cave (GBC) Extraction 28-30 Panel, Tembagapura, Kabupaten Mimika pada Senin, 8 September 2025 malam sekitar pukul 22.00 WIT.
Aliran material basah dalam jumlah besar dari titik pengambilan produksi di salah satu blok produksi menutup akses ke area tertentu di tambang. Kondisi tersebut membatasi rute evakuasi bagi tujuh pekerja yang terjebak.
“Produksi pasti berdampak. Untuk GBC saja (kinerja produksi saat ini) turun, mungkin (hanya tersisa) 30% nya (dari kapasitas total),” kata Tri saat ditemui di DPR RI, Senin (15/9).
Produksi PTFI saat ini berasal dari tiga tambang, yakni GBC, Deep Mill Level Zone and Big Gossan. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan di sepanjang 2024, PTFI memproduksi 208.400 metrik ton bijih per hari. Dari jumlah tersebut tambang GBC memproduksi 133.800 metrik ton per hari atau 64,2% dari total produksi perusahaan.
Adapun produksi GBC selama semester 1 2025 sebanyak 104.100 metrik ton per hari atau 60,49% dari total produksi yang mencapai 172.100 metrik ton per hari.
Terkait peristiwa longsor, Tri menyebut proses evakuasi masih terus berjalan. “Masih proses, masih dicari 7 korbannya,” ujarnya.
Dia mengatakan dari 7 korban tersebut ada dua korban yang merupakan warga negara asing (WNA), berasal dari Chile dan Afrika Selatan. Nama-nama pekerja PTFI yang terjebak di tambang bawah tanah antara lain: Irwan, Wigih Hartono, Victor Manuel Bastida Ballesteros, Holong Gembira Silaban, Dadang Hermanto, Zaverius Magai, dan Balisang Telile.
“Tapi sudah komunikasi dengan kedutaan masing-masing,” katanya.
Dia menyampaikan pemerintah masih mengupayakan proses evakuasi 7 pekerja tambang yang terjebak di tambang bawah tanah GBC.
Proses evakuasi masih berlangsung
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan 7 proses pencarian dan evakuasi terus dilakukan seluruh pihak, termasuk dari Kementerian ESDM dan PTFI. Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung sebelumnya menargetkan evakuasi 7 pekerja harus rampung dalam 30 jam.
Namun, hingga saat ini hal tersebut belum membuahkan hasil. “Saya sudah mengecek, jadi target 30 jam itu untuk mencapai titik awal (keberadaan pekerja),” kata Yuliot saat ditemui di kantornya, Jumat (12/9).
Yuliot mengatakan tim yang ada di lapangan sudah membuat dua terowongan baru untuk mencapai lokasi awal para pekerja. Namun, para pekerja tidak ditemukan meskipun terowongan sudah berhasil menembus lokasi awal mereka terkena longsor. Yuliot menyebut hal ini berpotensi dipengaruhi oleh kondisi terowongan yang berliku dan cukup dalam titiknya di bawah bumi.
“Ini yang terjebak belum ditemukan. Tim Kementerian ESDM dan PTFI yang di lapangan (mencari cara) bagaimana (menemukan) karyawan Freeport yang terjebak. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa teratasi,” ujarnya.
Dia menjelaskan pasca longsoran terjadi pada Senin (8/9) pihak perusahaan masih bisa melakukan komunikasi dengan pekerja yang terjebak menggunakan HT. Yuliot menyebut mereka dalam kondisi selamat.
“Jadi mungkin karena habis baterai, ini komunikasi (dengan pekerja) sudah terputus. Tapi tim di lapangan berusaha melihat kemana arah terowongan, karena kondisi di sana berbeda dengan perkiraan awal, namun ini diusahakan secepatnya (ditemukan),” ucapnya.
