RDMP Balikpapan & Tangki Raksasa Lawe-lawe, Amunisi Baru untuk Tekan Impor BBM

Ardhia Annisa Putri
Oleh Ardhia Annisa Putri - Tim Publikasi Katadata
20 Oktober 2025, 18:19
RDMP Balikpapan & Tangki Raksasa Lawe-lawe, Amunisi Baru untuk Tekan Impor BBM.
Muhammad Zaenuddin|Katadata
Proyek RDMP Balikpapan dan Tangki Raksasa Lawe-Lawe digadang menjadi tonggak penting dalam transformasi industri kilang Indonesia.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan mendekati garis akhir. Dengan progres pembangunan mencapai 96,5 persen, proyek ini digadang menjadi tonggak penting dalam transformasi industri kilang Indonesia.

Direktur Utama Kilang Pertamina Internasional (KPI) Taufik Aditiyawarman mengatakan, proyek ini sejalan dengan visi pembangunan nasional dalam Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Salah satu poin penting yang diusung pemerintah adalah memperkuat ketahanan ekonomi melalui peningkatan kapasitas kilang dan kemandirian pasokan energi.

Proyek RDMP Balikpapan akan mengerek kapasitas pengolahan minyak mentah dari 260 ribu barel per hari (bph) menjadi 360 ribu bph. Kualitas produknya setara Euro 5 sehingga mampu menghasilkan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. 

Selain itu, akan ada tambahan kapasitas produksi LPG dari 48 ribu ton menjadi 384 ribu ton per tahun. Dengan jumlah itu, potensi penurunan impor LPG ditaksir mencapai 5 persen.

Bagian dari proyek RDMP Balikpapan yakni Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) digadang mampu mengubah residu menjadi bensin, LPG, dan propylene. Dengan begitu bisa tercipta produk bernilai tinggi.

“Unit RFCC ini akan menjadi simbol utama ketahanan energi nasional. Dengan kapasitas 90 ribu barel per hari, RDMP Balikpapan akan memberi kontribusi signifikan terhadap pengurangan impor BBM,” ujar Taufik, Rabu (1/10/2025).

Tak jauh dari kilang utama Balikpapan, di Terminal Lawe-Lawe, Kabupaten Penajam Paser Utara, terdapat dua tangki raksasa, masing-masing berkapasitas 1 juta barel dan berdiameter 110 meter.

Tangki minyak terbesar di Asia Tenggara ini diperkuat dengan infrastruktur penunjang seperti single point mooring (SPM) berupa dermaga terapung sebagai pintu masuk aliran minyak mentah dari kapal tanker berbobot hingga 320 ribu DWT. SPM juga terhubung dengan jaringan pipa bawah laut dan darat berdiameter 52 inchi dengan panjang sekitar 20,2 kilometer.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menuturkan, kemandirian energi bukan sekadar jargon kebijakan, melainkan sebuah persoalan fundamental yang menyentuh jantung ekonomi nasional. 

“Kalau impor energi bisa ditekan, cadangan devisa bisa dipertahankan dan nilai tukar rupiah akan jauh lebih stabil,” ujarnya kepada Katadata, Minggu (19/10).

Selain itu, Komaidi yang juga merupakan pengajar di Fakultas Ekonomi Trisakti ini memandang sektor energi memiliki daya tular yang sangat luas. “Produksi, distribusi, sampai konsumsi semuanya butuh energi. Jadi ketika ketersediaannya terjamin, itu akan menggerakkan ekonomi dari pusat hingga daerah,” kata Komaidi.

Oleh karenanya, ia menilai, arah kebijakan pemerintah dalam mewujudkan kemandirian energi sudah tepat, tetapi perlu dijalankan dengan keseimbangan. Komaidi menambahkan, kebijakan pengurangan impor harus dilakukan secara hati-hati dan bertahap.

“Kalau dilarang impor tapi di dalam negeri belum siap, dampaknya bisa meluas dari ekonomi, sosial, sampai politik,” tuturnya.

Komaidi juga menyoroti peran Pertamina. Sebagai badan usaha milik negara (BUMN), peran dari perusahaan energi nasional ini tentu tidaklah mudah dalam menyeimbangkan kepentingan bisnis dan publik. Apalagi distribusi energi ke daerah terpencil itu mahal dan sulit, namun itulah bentuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

“Energi yang tersedia bukan hal yang bisa dianggap given atau ada begitu saja. Di balik setiap liter BBM yang sampai ke masyarakat, ada kerja besar menjaga stabilitas ekonomi dan sosial bangsa,” katanya.

Tonggak Penting Kedaulatan Energi Nasional

Proyek RDMP Balikpapan dan tangki Lawe-lawe merupakan bagian dari strategi untuk menekan impor BBM. Berdasarkan data Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia 2024 yang dirilis Kementerian ESDM pada 2025, impor BBM khususnya bensin mencapai 21,83 juta kilo liter (kl) pada 2024. 

Angka tersebut terdiri dari impor BBM RON 88 dan 90 sebesar 16,44 juta kl, RON 95 sebesar 243 ribu kl, dan RON 92 sebanyak 5,14 juta kl.

Total impor bensin di 2023 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2023 yang sebesar 21,05 juta kl. Hal ini sejalan dengan kebutuhan energi yang terus meningkat. Oleh karenanya, keberadaan RDMP Balikpapan dan tangki Lawe-lawe akan menjadi tambahan amunisi untuk menekan impor BBM. 

Bagi pemerintah dan Pertamina, keberhasilan RDMP Balikpapan dan tangki Lawe-lawe bukan titik akhir, melainkan awal dari babak baru. Taufik Aditiyawarman menuturkan, “Dengan dukungan penuh pemerintah, masyarakat, serta semua pemangku kepentingan, proyek RDMP Balikpapan dan Lawe-Lawe akan menjadi tonggak penting dalam memperkuat kedaulatan energi nasional dan meningkatkan daya saing industri migas Indonesia di tingkat global”.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...