Pertamina Targetkan Proyek Hidrogen Hijau Ulubelu Mulai Produksi Kuartal IV 2026
PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) menargetkan proyek skala kecil (pilot project) hidrogen hijau Ulubelu, Lampung akan mulai produksi pada akhir tahun ini. Hidrogen hijau ini merupakan bentuk pengembangan diversifikasi produk berbasis panas bumi.
Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, mengatakan hidrogen hijau ini memang dirancang sebagai proyek non-komersial dengan kapasitas produksi 80-100 kg per hari. Nilai investasi dari proyek ini berkisar US$ 3 juta atau Rp 50,35 miliar.
“Ditargetkan akan beroperasi pada kuartal IV 2026 dengan masa uji coba 3 tahun,” kata Ahmad dalam peresmian proyek green terminal di Cilegon, Banten, Rabu (11/2).
Dia menyebut periode masa uji coba tersebut berfungsi sebagai bukti konsep dan layak beroperasi. Proyek ini menggunakan teknologi Anion Exchange Membrane (AEM) electrolyzer. Menurutnya, proyek ini akan menjadi produksi hidrogen berbasis panas bumi pertama di dunia.
Ahmad menyampaikan pengembangan hidrogen hijau ini dirancang agar terintegrasi dengan ekosistem Pertamina group. Mulai dari potensi pemanfaatan di sektor mobilitas melalui Green Hydrogen Refueling Station, utilisasi industri hingga fuel cell generator sebagai pengganti diesel yang lebih ramah lingkungan.
“Nah tahun ini nanti yang fuel cell akan masuk ke dalam rencana ke depan di dalam KBLI bisnis kami,” ujarnya.
PGE saat ini memiliki 15 wilayah kerja panas bumi dengan total kapasitas terpasang hampir 2.000 megawatt.
Panas bumi memiliki keunggulannya sebagai base load renewable energy, stabil, andal, beroperasi 24 jam. Menurut Ahmad hal ini sangat ideal sebagai sumber energi untuk produksi Green Hydrogen secara berkelanjutan. .
Targetkan Toyota
PT Pertamina (Persero) menargetkan perusahaan mobil, Toyota Indonesia sebagai off taker atau pembeli produksi Hidrogen Hijau yang dihasilkan dari pilot proyek di Ulubelu, Lampung. Hal ini disampaikan oleh Wakil Direktur Utama Pertamina (Persero), Oki Muraza dalam Katadata Sustainability Action for the Future Economy (SAFE) 2025 dengan tema Green for Resilience di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (10/9).
“Saat ini kami sedang mengeksplor kerjasama dengan Toyota, yang juga punya pabrik di Karawang. Jadi salah satu target kami, kami sedang membangun kerjasama, mudah-mudahan nanti ada event yang cukup besar untuk panas bumi dan kita akan signing di sana,” kata Oki.
Pertamina menargetkan Toyota Indonesia bisa membeli produksi hidrogen hijau dari Ulubelu sebanyak 20 kilogram per hari, mulai 2025. Selain Toyota, produksi hidrogen hijau juga akan dibeli oleh anak usaha Pertamina sebanyak 50 kilogram per hari.
Hidrogen hijau ini dihasilkan dari pemanfaatan sumber panas bumi di Indonesia. Oki menyebut Indonesia memiliki potensi 24 sampai 26 giga watt panas bumi yang saat ini baru bisa dimanfaatkan kurang dari 10%.
“Di Indonesia kami juga sudah petakan dan melihat ada potensi cluster di Sumatra untuk hydrogen, kemudian ada cluster juga di Sulawesi dan juga ada cluster di Jawa. Sambil kami mengembangkan teknologinya, ketika harganya masih tinggi, kami bisa ekspor ke luar negeri,” ujarnya.
