Kuwait Nyatakan Force Majeure, Pangkas Produksi Minyak Imbas Memanasnya Perang
Kuwait Petroleum Corporation mulai memangkas produksi minyak pada Sabtu (7/3) dan menyatakan keadaan kahar (force majeure). Kondisi ini menyebabkan pasokan minyak dan gas semakin berkurang usai langkah serupa diambil Irak dan Qatar karena perang AS-Iran memblokir pengiriman dari Timur Tengah untuk hari kedelapan berturut-turut.
Perang telah memblokir jalur minyak terpenting di dunia, Selat Hormuz, yang bertanggung jawab atas 20% pasokan minyak dan LNG global. Analis memperkirakan Uni Emirat Arab dan Arab Saudi juga harus segera memangkas produksi karena mereka kehabisan tempat penyimpanan minyak.
Mengutip Reuters, Kuwait Petroleum Corporation (KPC) menyatakan keadaan kahar dalam pemberitahuan perdagangan, setelah menerapkan pengurangan produksi minyak mentah dan kapasitas penyulingan karena konflik di Timur Tengah. Namun, perusahaan minyak nasional itu tidak mengatakan berapa banyak pengurangan produksi yang akan dilakukan.
Pada Februari, Kuwait memproduksi sekitar 2,6 juta barel minyak mentah per hari.
Dikatakan bahwa pengurangan tersebut bersifat pencegahan dan akan ditinjau kembali seiring perkembangan situasi dan tetap siap untuk memulihkan tingkat produksi ketika kondisi memungkinkan.
KPC menyatakan keadaan kahar (force majeure) karena apa yang mereka sebut sebagai ancaman eksplisit dari Iran terhadap jalur pelayaran yang aman melalui Selat Hormuz, serangan berkelanjutan oleh Iran terhadap Kuwait, dan "hampir tidak adanya" kapal yang tersedia di Teluk Arab untuk mengangkut minyak mentah dan produk-produk terkait, demikian isi pemberitahuan tersebut.
Perusahaan menolak berkomentar mengenai pemberitahuan tersebut.
KPC adalah eksportir utama nafta ke Asia dan eksportir utama bahan bakar jet ke Eropa barat laut. Nafta adalah bahan baku untuk produksi petrokimia.
Perang AS-Israel terhadap Iran telah meluas melampaui perbatasan Iran, karena Teheran telah merespons dengan menyerang Israel dan negara-negara Arab Teluk yang menampung instalasi militer AS, dan Israel telah melancarkan serangan baru di Lebanon setelah milisi Hizbullah yang bersekutu dengan Iran menembak melintasi perbatasan.
Kirim masukan
