Harga Minyak Turun Usai IEA Usul Pelepasan Cadangan Minyak
Harga minyak acuan dunia turun pada perdagangan Rabu (11/3). Penurunan harga minyak terjadi setelah Badan Energi Internasional (IEA) mengusulkan pelepasan cadangan minyak dalam jumlah besar sepanjang sejarah.
Langkah tersebut diusulkan agar bisa menurunkan harga minyak mentah yang melonjak di tengah berlangsungnya perang Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.
Minyak acuan Brent turun 0,26% menjadi US$ 87,57 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 0,44%, menjadi US$ 83,08 per barel.
Perkiraan jumlah cadangan minyak yang dilepaskan melebihi 182 juta barel minyak ke pasar yang akan dilakukan oleh negara-negara anggota IEA. Pelepasan cadangan minyak sebelumnya pernah dilakukan saat Rusia melancarkan invasi ke Ukraina pada 2022.
Pelepasan ini akan diputuskan usai IEA mengadakan pertemuan bersama anggota mereka. Jika seluruh anggota menyetujui maka pelepasan akan dilakukan, namun jika ada salah satu anggota yang protes maka rencana tersebut bisa jadi tertunda.
G7 Juga Berencana Melepas Cadangan Minyak
Selain IEA, kelompok G7 juga membahas potensi pelepasan cadangan minyak. Hal ini dilakukan karena kondisi perang di Timur Tengah menghambat tersalurnya pasokan minyak ke pasar global sehingga menyebabkan lonjakan harga.
Sumber Bloomberg menyebut pertemuan tersebut diinisiasi oleh Prancis yang memegang presidensi G7. Pertemuan tersebut dikabarkan berlangsung pada Selasa (10/3) pukul 13.30 waktu Eropa (Central European Time).
Amerika Serikat mendukung gagasan pelepasan cadangan minyak secara bersama-sama. “Setiap tindakan akan dikoordinasikan dengan Badan Energi Internasional (EIA),” dikutip dari Bloomberg, Senin (9/3).
Berdasarkan catatan Bloomberg, pelepasan cadangan strategis hanya dilakukan lima kali sebelumnya. Dua di antaranya terjadi saat perang Rusia Ukraina pada 2022. Sebelum itu, cadangan diambil untuk mengatasi gangguan pasokan di Libya setelah Badai Katrina, dan diambil pada perang teluk pertama.
Beberapa pejabat AS percaya pelepasan cadangan bersama sejumlah 300-400 juta barel atau 25% dari total cadangan dapat mengatasi lonjakan harga. Konsumen di seluruh dunia sudah merasakan dampak gangguan di Timur Tengah, dengan antrean panjang di stasiun bensin dan lonjakan harga bahan bakar jet yang mendorong kenaikan biaya tiket pesawat.
Banyak kilang minyak di Asia yang bergantung pada minyak Timur Tengah terpaksa mengurangi tingkat operasional karena kesulitan mencari alternatif pasokan dari Teluk Persia.
