Kisah Warga Menimbun BBM untuk Mudik di Tengah Perang AS-Iran
Antrean panjang dan tangki kosong menghantui mudik Imam (27) tahun ini. Kekhawatiran akan kelangkaan BBM imbas perang di Timur Tengah membuatnya menyiapkan strategi sendiri agar perjalanan dari Bekasi ke Banyumas tak terhenti.
Ketakutan itu bukan tanpa alasan. Pemuda yang bekerja di Bekasi, Jawa Barat, ini merasa sulit mengisi penuh tangki motornya akhir-akhir ini. Pengguna BBM Pertalite tersebut mengaku sering kehabisan stok saat hendak mengisi di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) belakangan ini.
“Saya takut stok habis, soalnya saat ini sedang ada perang dan kemungkinan jalur distribusi diblokade sehingga membuat BBM langka,” kata Imam kepada Katadata, Selasa (10/3).
Kekhawatiran pasokan BBM memang tak lepas dari kondisi geopolitik dunia. Tengah terjadi perang antara Israel, Iran, dan Amerika Serikat yang sudah berlangsung sejak Sabtu (28/2). Buntut konflik di Timur Tengah ini membuat jalur vital pengiriman minyak yang diproduksi negara-negara di Teluk Persia tak dapat dipasarkan secara global. Ratusan kapal tanker hanya bisa berharap melewati Selat Hormuz yang ditutup oleh Iran.
Potensi Krisis BBM Jelang Mudik
Imam berencana mudik tahun ini. Dari tahun ke tahun, momentum mudik selalu menggunakan sepeda motor dari Bekasi hingga Banyumas, Jawa Tengah.
Melihat antrian dan seringnya menjumpai kekosongan stok, pemuda ini menimbun pasokan BBM. Penyimpanannya menggunakan bekas galon air mineral ukuran 20 liter, namun diisi hanya setengah kapasitas.
“Soalnya tangki motor saya kalau kondisi penuh hanya muat 10 liter saja,” ujarnya.
Penimbunan dilakukan dengan mengisi penuh tangki motor, lalu sesampainya di rumah dia memindahkan bensin ke galon yang disiapkan. Dia menggunakan cara manual dengan selang yang disedot agar bensin bisa masuk galon.
Setelah galon terisi, esok harinya dia kembali ke SPBU dan mengisi penuh motornya. Dia mengaku skema penimbunan stok ini tidak dilakukannya setiap hari.
Saat ini persediaan BBM yang dia simpan sudah habis. Imam berniat mengisinya kembali dalam waktu dekat, setelah Idulfitri berlangsung.
Aksi ini tak hanya dilakukan di Bekasi. Dalam momentum mudik, dia juga berencana membawa jerigen kecil di motornya untuk menampung persediaan cadangan bahan bakar selama perjalanan menuju Jawa Tengah.
“Kemungkinan mudik nanti saya bawa jerigen kecil agar tidak perlu antre BBM ukuran lima liter,” ucapnya.
Meski susah dan diliputi rasa khawatir, hingga saat ini Imam tak berniat mengubah rencana mudiknya dengan beralih ke transportasi umum atau mengikuti rombongan. Menurut Imam, biaya mudik dari Bekasi ke Banyumas hanya sekitar Rp 120 ribu untuk bahan bakar. Sementara moda transportasi lain memiliki harga tiket jauh lebih mahal.
Dia sempat mengecek harga kendaraan umum, seperti bus jurusan Banyumas yang dibanderol Rp 350 ribu per orang. Jika menggunakan travel, harganya mencapai Rp 500 ribu per penumpang.
“Harga satu tiket transportasi umum setara ongkos mudik motor pulang pergi. Jadi saya tetap menggunakan motor,” katanya.
Selalu Pastikan Tangki Terisi Penuh
Tak hanya Imam, seorang karyawan swasta bernama Reza (29) juga cemas dengan potensi kenaikan harga dan kelangkaan stok BBM. Reza mulai mengisi penuh tangki motornya beberapa hari setelah perang Timur Tengah meletus akhir Februari lalu.
Pada awal minggu ini, harga minyak dunia sempat berada di angka US$ 119 per barel imbas eskalasi perang. Hal ini membuat Reza mengambil ancang-ancang pemenuhan stok tangkinya. Ia takut melambungnya harga minyak dunia berdampak pada harga BBM domestik.
“Saya tidak menimbun, tapi selalu mengisi penuh tangki,” kata Reza kepada Katadata.
Menurut Reza, penimbunan tidak perlu dilakukan sebab kapasitas tangki motornya cukup menampung kebutuhan bahan bakar sebulan ke depan. Kendati demikian, dia berencana kembali mengisi penuh tangkinya sebelum mudik ke Ibu Kota Jawa Barat.
Baginya, saat ini lebih mengkhawatirkan pasokan BBM daripada pergerakan harganya. Dia juga memperhatikan akhir-akhir ini kepadatan di SPBU semakin terasa dibandingkan sebelum perang terjadi.
“SPBU rame terus, dahulu rame hanya di jam-jam tertentu saja,” ucap Reza.
Sementara itu, Ardi (29) juga mengaku selalu mengisi tangki BBM mobilnya. Ardi memastikan tangki BBM selalu penuh sehingga tidak khawatir jika terjadi kelangkaan BBM.
"Saya takut harga BBM mahal setelah Selat Hormuz ditutup dan minyak berkurang. Kalaupun mengambil AS, harga minyak tetap mahal karena jaraknya jauh," ujarnya.
