ESDM Klaim Telah Setujui 300 Juta Ton RKAB Batu Bara

Mela Syaharani
13 Maret 2026, 05:10
batu bara
ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/bar
Aktivitas bongkar muat batu bara milik salah satu perusahaan pertambangan di kawasan pantai Desa Peunaga Cut Ujong, Meureubo, Aceh Barat, Aceh, Rabu (17/9/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengeklaim telah menyetujui rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 300 juta ton untuk komoditas batu bara. Pemerintah telah memutuskan untuk memangkas persetujuan RKAB tahun ini menjadi 600 juta ton saja.

“(Yang lain) sedang dalam proses, saat ini yang sudah disetujui sekitar 300 juta ton,” kata Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Tri Winarno, saat ditemui di Kilang Balongan, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (12/3).

Pemangkasan itu disebut bertujuan untuk menjaga harga komoditas bagus. Indonesia pada 2025 telah memproduksi 790 juta ton batu bara dengan komposisi 65% untuk ekspor dan 32% dialokasikan kebutuhan domestik. 

Jumlah batu bara yang diperdagangkan di seluruh dunia berjumlah 1,3 miliar ton. Dari jumlah tersebut, Indonesia menyuplai 43% atau 514 juta ton. Hal ini berakibat pada ketidakseimbangan permintaan dan penawaran sehingga harga batu bara turun. 

Persetujuan RKAB itu ditargetkan rampung pada 31 Maret nanti. Tri tidak mengatakan ada berapa perusahaan yang sudah disetujui, dia hanya menyebut beberapa contohnya. Seperti beberapa pemilik izin Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu bara (PKP2B).

“Adaro dan PT Bukit Asam sudah, Arutmin Indonesia belum,” ujarnya.

Berdampak pada Kelistrikan

Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) menyebutkan sebagian pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Indonesia mengalami kekurangan pasokan batu bara. Kondisi ini disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang memangkas kuota produksi batu bara tahun ini menjadi 600 juta ton.  

“Benar, sebagian pembangkit stok batu baranya sudah kurang dari 10 hari, yang memiliki stok 25 hari operasi (HOP) hanya beberapa pembangkit saja,” kata Dewan Pengawas APLSI, Joseph Pangalila, saat dihubungi Katadata.co.id, Kamis (26/2). 

Joseph tidak memerinci pembangkit mana saja yang masih memiliki banyak stok, tapi yang jelas kondisi pasokan batu bara ini terbagi atas tiga kelompok. Pembangkit dengan stok batu bara 25 HOP, pembangkit dengan pasokan belasan hari operasi, dan sebagian lainnya di bawah 10 hari operasi. 

Menurutnya, standar operasional PLTU yang aman dan andal seharusnya memiliki stok batu bara 25 HOP. Sementara stok batu bara untuk pembangkit sebetulnya sudah menurun sejak tahun lalu. Namun, pemangkasan kuota produksi batu bara membuat kondisi itu semakin parah. 

Kendati demikian, Joseph menyebut stok batu bara bagi PLTU belum habis hingga Idulfitri mendatang. “Tidak, tapi keandalan suplai batu bara rendah. Jika ada pembangkit yang mendadak rusak, mati, atau cuaca buruk beberapa hari maka suplainya terganggu dan pasokan listrik berkurang,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...