Harga Minyak Turun Usai Trump Tunda Lagi Serangan Fasilitas Energi Iran

Mela Syaharani
27 Maret 2026, 09:03
Parlemen Iran menyetujui penutupan Selat Hormuz pasca serangan Amerika Serikat pada fasilitas nuklir negara tersebut, pada Minggu (22/6).
Vecteezy.com/Bjorn Franzen
Parlemen Iran menyetujui penutupan Selat Hormuz pasca serangan Amerika Serikat pada fasilitas nuklir negara tersebut, pada Minggu (22/6).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga minyak dunia turun setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menunda tenggat waktu penyerangan fasilitas energi Iran. Meski langkah ini memberi kelegaan jangka pendek bagi pasar, namun di saat yang sama memperpanjang posisi ketidakpastian perang.

Minyak Brent turun 0,8% menjadi US$ 107,10 per barel pagi ini, (27/3). Harga minyak sebelumnya sempat melonjak 6% pada Kamis (26/3). Sementara minyak West Texas Intermediate turun 0,8% menjadi US$ 93,70 per barel. 

Trump menyebut meskipun pemerintah Iran meminta waktu tujuh hari gencatan senjata, namun ia memberikan 10 hari. Tenggat waktu tersebut direvisi sehingga mundur hingga 6 April.

“Perpanjangan gencatan senjata memang meredakan tekanan pasar dalam jangka pendek, tetapi risiko tetap cenderung meningkat,” ujar Ahli strategi komoditas di ING Groep NV, Ewa Manthey dikutip dari Bloomberg, Jumat (27/3).

Peningkatan risiko ini didukung oleh kondisi terhentinya pasokan 8 juta barel per hari serta volume minyak yang masih rentan di Teluk Persia.

 “Pemi risiko geopolitik kemungkinan tidak akan berkurang secara signifikan,” katanya.

Bloomberg menulis, minyak Brent berada di fase kenaikan bulanan tertinggi sepanjang sejarah pada Maret, seiring perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mengguncang kawasan Timur Tengah yang kaya minyak. 

Dengan hampir tertutupnya Selat Hormuz sebagai reaksi Iran terhadap serangan AS, konflik ini sangat membatasi aliran energi yang vital bagi perekonomian global.

“Pasar mulai memahami bahwa tidak ada kepastian kapan konflik ini akan berakhir. Kita memasuki akhir pekan berikutnya dengan risiko yang masih cenderung meningkat,” kata Analis minyak dan gas di Enverus, Carl Larry.

Perpanjangan tenggat waktu oleh Trump memberikan lebih banyak ruang untuk perundingan, sekaligus memungkinkan Amerika Serikat menambah pasukan di kawasan tersebut, termasuk unit Marine Expeditionary. 

Menurut analis Macquarie Group Ltd., termasuk Peter Taylor, terdapat sekitar 60% kemungkinan perang berakhir pada akhir Maret, dan 40% kemungkinan konflik berlangsung lebih lama hingga akhir Juni. Dalam skenario kedua, harga minyak bisa mencapai US$ 200 per barel.

Iran mengatakan mereka masih menunggu respon setelah menolak rencana 15 poin dari AS untuk mengakhiri perang, dan mengajukan syarat mereka sendiri. 

Salah satunya adalah pengakuan atas otoritas Teheran terhadap Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global.

Jalur laut vital tersebut sebelumnya mengangkut sekitar seperlima aliran minyak dunia sebelum perang dimulai pada akhir Februari. Meskipun terjadi kebuntuan secara luas, dalam 24 jam terakhir terlihat meningkatnya percobaan pelintasa kapal di selat tersebut.

Kemarin Trump menyebut Iran telah mengizinkan 10 kapal tanker minyak melintas sebagai bentuk itikad baik. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, juga mengatakan program asuransi untuk mendorong pelayaran melalui jalur tersebut akan segera dimulai.

Harga berjangka Brent telah melonjak lebih dari 45% sepanjang Maret, sementara biaya produk minyak seperti diesel hingga bahan bakar jet naik lebih tinggi lagi, membebani bisnis dan konsumen. Kenaikan ini memicu kekhawatiran akan lonjakan inflasi global sekaligus perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...