Harga Minyak Dunia Melonjak, Houthi Yaman Sepakat Dukung Iran dalam Perang AS
Harga minyak dunia naik karena Houthi di Yaman masuk ke dalam perang Timur Tengah. Kelompok yang berasal dari Yaman ini mendukung Iran dalam perang menghadapi Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Selain Houthi, kenaikan harga juga didukung oleh bertambahnya pasukan AS di kawasan tersebut. Hal ini memicu kekhawatiran meluasnya konflik akan menambah kekacauan di pasar energi.
Minyak acuan Brent melonjak hingga 3,7% menjadi US$ 116,75 per barel setelah Houthi menembakkan rudal ke Israel pada akhir pekan. Kelompok tersebut menyebut akan terus melanjutkan operasi hingga serangan terhadap Iran dan kelompok militan proksinya dihentikan. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 3,3% menjadi US$ 102,92 per barel.
AS telah mengerahkan ribuan pasukan ke kawasan tersebut, menambah kekhawatiran akan invasi darat yang berisiko tinggi. Presiden Donald Trump mengatakan ia ingin mengambil minyak Iran dan dapat merebut pusat ekspor minyak di Pulau Kharg. Awal bulan ini, AS telah menyerang lokasi militer di pulau tersebut.
Harga Brent melonjak sekitar 60% sepanjang Maret karena perang ini mengguncang pasar global serta memicu kekhawatiran akan lonjakan inflasi, sekaligus perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Konflik ini telah memasuki minggu kelima dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda, meskipun ada dorongan diplomatik dari Washington pekan lalu serta pembicaraan damai terpisah pada akhir pekan di Pakistan.
Trump sebelumnya mengatakan Iran telah memberikan sebagian besar dari 15 tuntutan yang diajukan AS kepada Teheran untuk mengakhiri perang, namun ia tidak merinci konsesi tersebut. Padahal Iran sebelumnya secara terbuka menolak rencana itu dan mengajukan syarat balasan, termasuk mempertahankan kedaulatan atas Selat Hormuz.
Iran telah membatasi hampir seluruh lalu lintas kapal yang melewati jalur perairan yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global. Pemerintah Iran juga berupaya memperkuat kendali atas jalur tersebut dengan melarang sebagian besar kapal, sambil tetap mengizinkan beberapa kapal lewat, termasuk dari Pakistan, Thailand, dan Malaysia.
Pekan lalu, Trump mengatakan dalam rapat kabinet bahwa Iran telah mengizinkan 10 kapal minyak melintas di Hormuz sebagai bentuk itikad baik. Presiden AS ini menyampaikan jumlah tersebut telah digandakan, hal ini dikonfirmasi oleh Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar di platform X bahwa Teheran setuju mengizinkan 20 kapal tambahan negaranya melintas di selat tersebut.
Keterlibatan Houthi menghadirkan risiko baru bagi pasar minyak mentah. Kelompok ini sebelumnya secara efektif menutup Laut Merah setelah perang di Gaza dimulai pada 2023, memaksa kapal-kapal mengubah rute. Ancaman terhadap kargo yang dimuat melalui pelabuhan Yanbu di Arab Saudi akan semakin membatasi pasokan.
