Kenapa Trump Incar Pulau Kharg Milik Iran?
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan potensi aksi lanjutan AS terhadap sebuah pulau kecil di lepas pantai Iran bernama Kharg. Pulau tersebut menjadi lokasi terminal minyak besar yang dianggap sebagai urat nadi ekonomi Iran.
Trump menyebut ingin mengambil alih minyak Iran dan sedang mempertimbangkan untuk merebut Pulau Kharg. Pada 13 Maret, Trump mengatakan pasukan AS telah sepenuhnya menghancurkan setiap target militer di pulau itu. Namun militer AS menahan diri untuk tidak menargetkan infrastruktur minyaknya.
Berdasarkan informasi dari empat sumber, Pemerintah AS sedang mempertimbangkan rencana untuk menduduki atau memblokade pulau itu. Hal ini dilakukan untuk menekan Iran agar membuka kembali Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran migas terpenting di dunia yang terletak di selatan pantai Iran.
Apa Itu Pulau Kharg?
Pulau Kharg merupakan sebuah pulau kecil berbatu yang terletak sekitar 15 mil laut (24 km) dari pantai Iran. Meski kecil, pulau ini merupakan salah satu bagian paling krusial dari infrastruktur energi Iran.
Meski kecil, namun 90% minyak mentah Iran melewati terminal di pulau ini yang dialirkan melalui pipa dari daratan utama.
Trump secara khusus menyebut kemungkinan menargetkan pipa-pipa tersebut. Tetapi mengatakan mereka sejauh ini menahan diri untuk menghindari kerusakan jangka panjang pada ekonomi Iran.
“Kami bisa melakukannya dalam lima menit, selesai. Hanya satu kata sederhana, dan pipa-pipa itu juga akan hilang. Tapi butuh waktu lama untuk membangunnya kembali,” kata Trump, dikutip dari BBC, Senin (30/3).
Kapal tanker berukuran super besar dengan kapasitas angkut hingga 85 juta galon minyak dapat merapat ke dermaga Pulau Kharg untuk mengambil minyak. Garis pantai pulau ini pun cukup dekat dengan perairan dalam, berbeda dengan pantai daratan utama yang lebih dangkal.
Tanker-tanker tersebut kemudian melintasi Teluk dan keluar melalui Selat Hormuz menuju Cina yang merupakan pembeli utama minyak Iran. Sebagai terminal ekspor minyak Iran, pulau ini menjadi sumber pendapatan utama bagi IRGC.
Apakah AS akan Mencoba Rebut Pulau Tersebut?
BBC menulis, jika kedua negara berebut untuk mengambil alih Kharg, maka kondisi ini akan menghentikan ekspor minyak Iran, sekaligus menjadi momentum AS untuk melancarkan serangan ke daratan utama.
“Mungkin kami ambil Pulau Kharg, mungkin tidak. Kami punya banyak pilihan,” ujar Trump
Menurut analis keamanan Mikey Kay, perebutan pulau itu secara efektif akan memutus urat nadi ekonomi Garda Revolusi Iran (IRGC), sehingga memengaruhi kemampuan mereka dalam berperang.
Analis keamanan nasional CBS, Aaron Maclean mengatakan operasi AS untuk merebut pulau tersebut relatif berskala kecil namun menantang. Sebab perlu menempuh jarak yang jauh, baik melalui kapal laut maupun operasi udara.
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut pasukan mereka menunggu kedatangan tentara AS dan akan menghujani mereka dengan api jika mencoba memasuki wilayah Iran.
Iran juga telah memperkuat pertahanan di Pulau Kharg dalam beberapa pekan terakhir sebagai respons terhadap ancaman tersebut, termasuk dengan menambah personel militer dan sistem pertahanan udara.
Teheran juga mengirimkan rudal portabel tambahan serta memasang jebakan seperti ranjau anti-personel dan anti-kendaraan di perairan sekitar pulau.
Serangan AS 13 Maret
Dua pekan lalu, Trump menyebut Komando Pusat AS telah melaksanakan salah satu serangan pemboman paling kuat dalam sejarah Timur Tengah. Serangan ini sepenuhnya menghancurkan 90 target militer seperti ranjau laut, bunker penyimpanan rudal di permata mahkota Iran, Pulau Kharg.
Meski melakukan serangan kuat namun AS klaim tidak menghancurkan infrastruktur minyak pulau tersebut demi alasan kemanusiaan.
Media pemerintah Iran melaporkan tidak ada kerusakan pada fasilitas minyak di pulau tersebut. Kantor berita Fars menyebut serangan AS menargetkan pertahanan udara, pangkalan angkatan laut, menara kontrol bandara, dan hanggar helikopter.
“Proses ekspor minyak dari Kharg berjalan penuh dan terus berjalan tanpa gangguan.” kata wakil politik gubernur Provinsi Bushehr, Ehsan Jahanian.
Setelah serangan tersebut, militer Iran memperingatkan infrastruktur minyak dan energi milik perusahaan yang bekerja sama dengan AS akan segera dihancurkan dan dijadikan abu jika fasilitas energi mereka diserang.
