Harga Minyak Naik di Tengah Tak Jelasnya Kelanjutan Perundingan AS-Iran
Harga minyak dunia terus naik selama lima hari, rekor terpanjang sejak Januari 2026. Hal ini terjadi di tengah ketidakpastian agenda perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang makin menunda teralirnya pasokan migas dari Teluk Persia ke pasar global.
Minyak acuan Brent naik 1,1% menjadi US$ 106,20 per barel, sementara West Texas Intermediate diperdagangkan naik 0,96% menjadi US$ 96,77 per barel.
Dua sumber pejabat AS mengatakan unggahan Presiden AS Donald Trump di Truth Social dan keputusannya untuk melanjutkan blokade laut terhadap pelabuhan Iran, bisamerugikan perundingan.
Perang yang sudah berlangsung selama 2 bulan ini telah menyebabkan penurunan tajam aliran dari produsen utama minyak dan gas di Teluk Persia, imbas terbatasnya akses Selat Hormuz.
Muncul kekhawatiran baru terkait terhentinya perundingan damai, peningkatan retorika, dan ancaman militer yang kian banyak menambah premi geopolitik pada harga minyak.
“Semakin lama ini berlanjut, semakin jelas bahwa dampak gangguan dari konflik ini akan bergema selama berbulan-bulan, jika tidak lebih lama,” kata Direktur Program Timur Tengah di Center for Strategic and International Studies, Mona Yacoubian.
Harga minyak naik setelah Trump memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menembak kapal-kapal yang menanam ranjau di Selat Hormuz. Sementara itu, pasukan AS menyita supertanker yang membawa minyak Iran di Samudra Hindia, seiring peningkatan blokade terhadap pelayaran Republik Islam tersebut.
Lalu lintas Selat Hormuz tetap sepi, hanya sesekali pergerakan kapal Iran yang memecah kondisi sepi.
Upaya untuk menghidupkan kembali perundingan antara Washington dan Teheran masih menemui jalan buntu pada sejumlah isu kunci lainnya, termasuk kemampuan nuklir Iran dan serangan Israel ke Lebanon.
