ESDM Bantah CNG akan Gantikan LPG: Sebatas Alternatif dan Dikembangkan Bertahap

Mela Syaharani
13 Mei 2026, 15:14
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman (kanan) memberikan paparan saat mengikuti rapat kerja bersama Komisi XII di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (1/10/2025).
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/foc.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman (kanan) memberikan paparan saat mengikuti rapat kerja bersama Komisi XII di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (1/10/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan rencana pengembangan compressed natural gas (CNG) 3 kilogram (kg) atau gas alam terkompresi tidak ditujukan untuk menggantikan keberadaan liquified petroleum gas (LPG) 3 kg subsidi. Direktur Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman menyebut CNG hanya difungsikan sebagai alternatif saja. 

“Kalau pengganti kan artinya masif dan besar, kalau (CNG) ini alternatif, karena (pengembangannya) ada tahapan-tahapan,” kata Laode saat ditemui di Kementerian ESDM, Rabu (13/5).

Dia menyebut pemerintah saat ini sedang mengkaji berbagai aspek sebelum mengembangkan CNG dalam ukuran 3 kg. Salah satu yang dibahas adalah aspek keselamatan, bersama Kementerian Perindustrian, Kementerian Ketenagakerjaan, serta BSN.

Laode memastikan pasokan CNG di Indonesia cukup untuk dikembangkan. “Kita kan punya banyak gas, kemarin juga sudah ada temuan gas besar seperti ENI (di Kalimantan Timur),” ujarnya.

Dia mengatakan pemerintah akan mulai mengembangkan CNG melalui beberapa proyek percobaan yang dimulai tahun ini.

Hemat Subsidi

Laode sebelumnya menyampaikan penggunaan CNG untuk menjadi alternatif  LPG 3kg dapat menghemat subsidi hingga 30%.

“Dengan konten yang sama, dengan harga yang sama dengan LPG 3kg, kita bisa menghemat 30%. Subsidinya lebih rendah (CNG) daripada subsidi LPG,” ujar Laode dikutip dari Antara, Rabu (13/5).

Lebih lanjut, Laode menjelaskan LPG membutuhkan anggaran yang lebih banyak, sebab tak hanya membutuhkan subsidi, tetapi juga harus diimpor dari luar negeri.

Sementara itu untuk CNG, Laode menyampaikan Indonesia sudah menghasilkan gas bumi sendiri yang diyakini dapat memenuhi kebutuhan di dalam negeri.

Dengan demikian, setelah melalui proses perhitungan, Laode meyakini Indonesia bisa menghemat 20–30% subsidinya apabila beralih dari LPG ke CNG. Hitungan tersebut, masih bisa disimulasikan lebih jauh sebab masih merupakan hitungan awal.

“Artinya, ini kenapa tidak kita manfaatkan? Gasnya juga dari kita sendiri, sehingga kita tidak perlu beli dari luar,” ujar Laode.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...