Harga Pertamax Naik, Pengusaha Logistik Masih Tahan Tarif Layanan
Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dinilai akan meningkatkan biaya operasional industri jasa pengiriman dan logistik akibat kenaikan biaya transportasi.
Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (ASPERINDO) Budiyanto Darmastono mengatakan kenaikan harga Pertamax tidak hanya berdampak pada biaya pengisian bahan bakar armada, tetapi juga memicu kenaikan berbagai komponen biaya lain dalam rantai distribusi. Kendati demikian, ia menyebut pengusaha logistik masih akan menahan kenaikan harga layanan.
"ASPERINDO memandang kenaikan harga BBM, termasuk Pertamax, secara langsung maupun tidak langsung berdampak terhadap industri jasa pengiriman dan logistik," kata Budiyanto dalam keterangannya, Jumat (12/6).
Biaya transportasi merupakan salah satu komponen terbesar dalam struktur biaya operasional perusahaan jasa pengiriman. Kenaikan harga BBM akan meningkatkan biaya mobilitas armada untuk distribusi antarkota, pengiriman last mile, hingga kegiatan operasional pendukung lainnya.
Selain itu, kenaikan harga BBM juga berpotensi mendorong kenaikan tarif angkutan, biaya vendor transportasi, harga suku cadang, biaya pemeliharaan armada, serta berbagai kebutuhan operasional yang digunakan dalam rantai pasok.
"Pada akhirnya kondisi ini meningkatkan biaya logistik secara keseluruhan dan memberikan tekanan terhadap efisiensi operasional perusahaan jasa pengiriman," ujarnya.
Dampak kenaikan BBM cukup signifikan, terutama bagi perusahaan yang memiliki armada operasional dalam jumlah besar dan jaringan distribusi yang luas. Dalam industri logistik, biaya transportasi dapat mencapai sekitar 30% hingga 50% dari total biaya operasional perusahaan.
Karena itu, setiap kenaikan harga BBM akan berpengaruh langsung terhadap biaya pengiriman barang. Dampaknya juga dirasakan oleh mitra transportasi, vendor distribusi, dan pelaku usaha lain dalam ekosistem logistik sehingga memunculkan efek berantai pada biaya distribusi.
Masih Tahan Harga Layanan
Meski menghadapi tekanan biaya yang meningkat, ASPERINDO menilai kenaikan tarif layanan pengiriman bukan menjadi langkah pertama yang akan ditempuh perusahaan. Pelaku usaha logistik akan mengutamakan berbagai upaya efisiensi internal untuk menjaga daya beli pelanggan dan keberlangsungan aktivitas perdagangan.
Namun, apabila kenaikan biaya operasional berlangsung dalam jangka panjang dan tidak lagi dapat ditutupi melalui efisiensi, penyesuaian tarif layanan dinilai menjadi opsi yang sulit dihindari.
Untuk meredam dampak kenaikan harga BBM, perusahaan jasa pengiriman akan meningkatkan efisiensi rute distribusi, mengoptimalkan kapasitas armada, memperkuat digitalisasi proses bisnis, serta mengevaluasi jaringan distribusi agar lebih efektif dan efisien.
