Pemadaman Listrik Bergilir, Kadin Prediksi Industri Kehilangan 30% Produksi
Pemadaman listrik bergilir di Pulau Jawa yang berlangsung hingga berjam-jam menjadi perhatian serius dunia usaha karena berdampak langsung terhadap aktivitas produksi dan stabilitas rantai pasok industri. Kadin Indonesia menyebut pemadaman berulang menurunkan produktivitas harian industri hingga 30%.
Erwin Aksa, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, mengatakan kondisi pemadaman listrik yang berulang dan berlangsung berjam-jam, membuat output produksi harian turun 10% hingga 30%.
“Bahkan lebih tinggi pada industri yang proses produksinya tidak dapat dihentikan secara mendadak,” kata Erwin kepada Katadata.co.id, Senin (22/7).
Besaran kerugian dunia usaha sangat bergantung pada sektor dan durasi pemadaman. Pada industri manufaktur yang beroperasi secara kontinu, setiap jam penghentian produksi dapat menimbulkan kerugian signifikan.
Pasalnya, listrik dalam kegiatan industri bukan sekadar utilitas pendukung, melainkan faktor produksi utama yang menentukan keberlangsungan operasional.
“Ketika pasokan listrik terganggu, dampaknya tidak hanya berupa terhentinya aktivitas produksi, tetapi juga menimbulkan kerugian berantai, mulai dari penurunan produktivitas, kerusakan bahan baku, gangguan rantai pasok, hingga keterlambatan pengiriman kepada pelanggan,” ujarnya.
Industri Manufaktur Padat Modal Paling Rentan Terdampak
Sejumlah sektor disebut paling rentan terdampak, antara lain industri manufaktur padat modal seperti baja, semen, petrokimia, pulp dan kertas, serta industri makanan dan minuman yang membutuhkan sistem pendingin dan proses produksi berkelanjutan.
Selain itu, pusat data, telekomunikasi, rumah sakit, pergudangan rantai dingin (cold chain), ritel modern, hotel, hingga sektor logistik juga menghadapi risiko operasional yang tinggi saat pasokan listrik tidak stabil.
Dampak serupa juga dirasakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Banyak UMKM tidak memiliki genset cadangan sehingga pemadaman listrik langsung menghentikan kegiatan usaha dan mengurangi pendapatan harian.
Bagi pelaku usaha yang memiliki genset, biaya operasional meningkat akibat penggunaan bahan bakar tambahan yang pada akhirnya menekan margin keuntungan.
PT PLN (Persero) bersama pemangku kepentingan energi lainnya didorong untuk memastikan keandalan sistem kelistrikan tetap terjaga. Kadin menilai kepastian pasokan energi merupakan faktor kunci dalam menjaga daya saing industri dan iklim investasi nasional.
“Kami berharap pemerintah, PLN, dan seluruh pemangku kepentingan dapat segera memastikan penyebab gangguan ditangani secara tuntas, meningkatkan transparansi informasi kepada pelaku usaha, serta memperkuat ketahanan sistem kelistrikan agar kejadian serupa tidak terulang,” kata Erwin.
Kepastian pasokan energi sangat penting untuk menjaga produktivitas industri, kepercayaan investor, serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
