Sinyal Banjir Pasokan, Harga Minyak Turun Dekati US$ 70 per Barel

Mela Syaharani
25 Juni 2026, 08:52
minyak, harga minyak, brent
Reuters
Kapal tanker berlayar di Teluk, dekat Selat Hormuz, seperti terlihat dari bagian utara Ras al-Khaimah, dekat perbatasan dengan pemerintahan Musandam Oman, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Uni Emirat Arab, pada 11 Maret 2026.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga minyak acuan dunia hari ini terus menurun mendekati US$ 70 per barel. Hal ini terjadi di tengah tanda pasokan yang semakin melimpah serta kemajuan kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Harga minyak Brent turun 0,9% menjadi US$ 73,10 per barel pada pukul 09.01 waktu Singapura. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) harganya sudah berada di angka US$ 69,76 per barel.

Saat ini kondisi pasar minyak dunia mendadak dibanjiri pasokan dengan tawaran dari Timur Tengah dan Afrika. Meningkatnya ketersediaan minyak telah menekan harga minyak fisik dari Angola hingga Uni Emirat Arab. 

Indikator minyak Brent berbalik ke struktur contago yang bersifat bearish pada Rabu (24/6), pertama kalinya sejak perang dimulai.

Pada penutupan perdagangan kemarin, harga WTI mencapai US$ 67,02 per barel, atau hanya di atas US$ 3 harga sebelum perang terjadi. Saat konflik Timur Tengah, harga WTI sempat melonjak di atas US$119 per barel pada awal Maret. 

Penurunan harga juga dialami oleh Brent yang pernah menembus harga US$ 140 per barel saat perang terjadi.

Tak hanya pasokan yang melimpah, tren penurunan harga juga dipicu berlangsungnya kesepakatan damai antara AS dan Iran. Pembicaraan kedua negara mengisyaratkan adanya kemajuan setelah pembahasan awal untuk mengakhiri perang, meskipun klaim dari kedua belah pihak terkadang berbeda.

Mereka saat ini masih melakukan perundingan lanjutan mengenai isu-isu seperti program nuklir serta gencatan senjata di Lebanon yang masih menghadapi berbagai hambatan. 

Optimisme awal terhadap tercapainya kesepakatan jangka panjang telah mendorong meningkatnya jumlah kapal tanker yang secara terbuka melintasi Selat Hormuz dengan sinyal satelit mereka tetap menyala.

“Gagasan bahwa kita kini beralih ke kondisi pasokan yang lebih besar dengan permintaan yang lebih rendah benar-benar telah mendorong penurunan harga,” kata Associate Dean di Center for Global Affairs, New York University Carolyn Kissane, dikutip dari Bloomberg, Kamis (25/6).

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...