Agrinas Palma Reaktivasi Pabrik Biodiesel di Riau, Biayanya Disebut Murah
PT Agrinas Palma Nusantara berencana mengaktifkan kembali atau reaktivasi pabrik biodiesel di Rengat Riau. Direktur Utama Agrinas Palma Nusantara Mohammad Abdul Ghani mengatakan, pabrik ini memiliki kapasitas produksi 600 ribu ton.
“Sebenarnya ini perbaikan saja, karena sudah rusak, kapasitasnya 600 ribu ton. Biayanya murah, tidak sampai Rp 300 miliar,” kata Ghani saat ditemui di kompleks DPR, Senin (6/7).
Ghani menyebut rencana reaktivasi itu sudah melewati tahap uji kelayakan (FS) dan sebentar lagi akan digelar tender. Perusahaan menargetkan reaktivasi bisa segera selesai dan pabrik mulai melakukan kegiatan produksi pada akhir tahun depan.
“Artinya ini akan mendukung bagian dari (program biodiesel 50%) B50,” ujarnya. Biodiesel adalah bahan bakar alternatif terbuat dari minyak nabati atau hewani yang dapat digunakan untuk menggantikan solar pada mesin diesel. Indonesia bulan ini akan menerapkan campuran biodiesel 50% atau B50.
Selain reaktivasi, Agrinas Palma berencana membangun pabrik pengolahan singkong menjadi bioetanol pada 2030.
Corporate Secretary Agrinas Palma Nusantara Bambang Agustian mengatakan, rencana pembangunan pabrik bioetanol masih dalam proses persiapan. Untuk mendirikan pabrik tersebut Agrinas Palma harus membuka lahan dan mencari mitra untuk berinvestasi.
“Kalau kami produksi singkong saha tanpa ada pabriknya kan percuma, jadi kami sekarang sedang menggandeng investor,” ujar dia dalam kesempatan yang sama.
Implementasi B50 Bulan Ini
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan implementasi biodiesel 50% atau B50 dilakukan pada awal Juli 2026.
“B50 itu peresmiannya direncanakan Juli, tapi tidak tanggal 1, masih menunggu jadwal Presiden,” kata Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia saat ditemui di kantornya, Selasa (30/6).
Dia menyebut implementasi B50 ini rencananya dilakukan di salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Anggia mengatakan ketika program B50 diresmikan oleh Presiden maka bahan bakar nabati ini akan diimplementasikan secara serentak di seluruh SPBU. Dia menyampaikan pemerintah telah menyiapkan seluruh fasilitas mulai dari hulu hingga hilir untuk B50, termasuk SPBU dan lokasi pencampurannya.
Dia menyampaikan pemerintah telah menyiapkan seluruh fasilitas mulai dari hulu hingga hilir untuk B50, termasuk SPBU dan lokasi pencampurannya.
“Semua sudah siap, termasuk untuk distribusinya sehingga kebijakan serentak Juli ini bisa langsung diimplementasikan sesuai dengan arahan Presiden,” ujarnya.
Meski B50 akan diimplementasikan awal Juli, hal ini tidak jadi dilakukan berbarengan dengan kebijakan mandatory atau kewajiban etanol 5% (E5) dalam bahan bakar. Menurutnya pemerintah saat ini masih dalam tahap menyiapkan seluruh aspek, termasuk pasokan etanolnya.
“Menteri ESDM tidak mau nanti etanolnya impor lagi, jadi nanti produksi semuanya di dalam negeri,” katanya.
