Harga Minyak Naik ke US$ 89 per Barel di Tengah Ketegangan Selat Hormuz
Harga minyak acuan dunia terus naik selama enam hari berturut-turut. Hal ini terjadi di tengah keraguan pasar akan prospek tercapainya kesepakatan yang dapat memulihkan arus energi melalui Selat Hormuz.
Harga minyak Brent naik 0,6% menjadi US$ 89,47 per barel pada pukul 10.02 waktu Singapura. Harga ini melonjak 12% dalam lima sesi perdagangan sebelumnya.
Sementara itu harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 0,8% menjadi US$ 83,83 per barel. Harga minyak mentah telah melonjak lebih dari 40% sepanjang tahun ini.
Dikutip dari laporan Bloomberg, harga minyak berjangka sangat sensitif terhadap pemberitaan mengenai upaya membuka kembali Selat Hormuz, yang berulang kali bergerak antara optimisme kesepakatan sudah dekat dan atau indikasi proses tersebut mengalami kebuntuan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa AS sepenuhnya mengendalikan Selat Hormuz dan tidak mempercayai Iran. Pernyataan tersebut disampaikan setelah Trump mengajukan sejumlah tuntutan baru yang luas terhadap Iran pada pekan ini.
Iran menegaskan permintaan untuk mendapatkan kompensasi sebagai bagian dari perundingan guna mengakhiri perang yang telah berlangsung selama lima bulan.
Sebelum Trump menyampaikan pernyataannya, Menteri Pertahanan Pakistan mengatakan Washington dan Teheran sudah mendekati suatu bentuk kesepakatan terkait Selat Hormuz. Di sisi lain, perundingan mengenai Hormuz antara Iran dan Oman juga telah memasuki tahap lanjutan.
“Kenaikan harga minyak menunjukkan pasar masih skeptis kesepakatan dalam waktu dekat akan mampu memulihkan arus minyak melalui Selat Hormuz,” kata analis komoditas di Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar, dikutip dari Bloomberg, Rabu (12/8).
Menurut dia, penurunan persediaan global mengancam mendorong harga Brent menuju US$ 100 per barel. Tak hanya minyak, memanasnya kondisi Timur Tengah dan geopolitik global juga berdampak pada naiknya sejumlah harga produk minyak cukup tajam tajam. Termasuk juga dengan harga diesel yang meningkat akibat dampak perang Rusia-Ukraina.
Pemerintah AS memperkirakan gangguan pasokan minyak akibat konflik Iran akan mencapai sekitar 600.000 barel per hari hingga akhir 2027.
Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz telah menurun hingga sangat minim, tetapi sebagian minyak masih keluar dari kawasan Teluk Persia. Pasokan yang keluar ini sering kali menggunakan kapal tanker yang mematikan transpondernya.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan dalam sebuah unggahan di media sosial bahwa hampir 9 juta barel minyak per hari melintasi selat tersebut dengan bantuan militer AS.
