Harga Minyak Mentah Turun, Pertamina Buka Peluang Turunkan Harga Oli
PT Pertamina Lubricants mengatakan perusahaan membuka peluang penyesuaian harga pelumas kendaraan atau oli, jika harga minyak mentah (crude) dunia terus menurun. Corporate Secretary Pertamina Lubricants Rika Gresia Wahyudi mengatakan harga pelumas Pertamina naik 17% pada 2 Juni lalu.
Dia menyampaikan harga pelumas sangat terpengaruh adanya konflik di Timur Tengah, yang pada akhirnya menaikkan harga crude yang merupakan bahan dasar produk tersebut.
“Harapannya mungkin (kalau) harga crude trennya menurun semoga kami juga bisa menyesuaikan harga,” kata Rika saat ditemui di Pertamina Lubricants Production Unit Jakarta, Rabu (12/8).
Pergerakan harga minyak dunia saat ini masih fluktuatif, mengikuti perkembangan eskalasi konflik yang terjadi di Timur Tengah. Perang di kawasan tersebut pernah menyebabkan harga minyak melambung hingga US$ 118 per barel.
Per hari ini (12/8), harga minyak Brent naik 0,6% menjadi US$ 89,47 per barel pada pukul 10.02 waktu Singapura. Sementara itu harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 0,8% menjadi US$ 83,83 per barel. Harga minyak mentah telah melonjak lebih dari 40% sepanjang tahun ini.
Rika menyebut meski produk pelumas mereka harganya naik pada bulan lalu, dia menyebut hal ini tak hanya diterapkan oleh Pertamina, namun keputusan tersebut juga dilakukan oleh perusahaan pelumas lainnya.
Kendati demikian, dia menyampaikan perusahaan hingga saat ini belum berencana untuk menaikkan kembali harga pelumas.
Rika menjelaskan komponen penentuan harga pelumas dipengaruhi oleh ketersediaan bahan baku, harga bahan dasar, hingga biaya logistik.
“Harapannya tidak ada lagi dinamika lagi di luar sana yang bisa memengaruhi bahan baku,” ujarnya.
Dampak Perang ke Pelumas
PT Motul Indonesia Energy (MIE) sebelumnya juga memberi sinyal bahwa perang antara Amerika Serikat (AS), Israel dan Iran memberikan dampak negatif terhadap industri pelumas yang ada di Tanah Air.
Managing Director PT Motul Indonesia Energy (MIE), Welmart Purba mengatakan pasokan pelumas yang masih kebanyakan impor dari luar Indonesia dapat mengakibatkan naiknya harga pelumas itu sendiri.
“Kalau produksi-produksi dalam konteks ini adalah lubricant, itu additive, base oil, kita kan impor sebenarnya. Lihat saja pemerintah sudah kasih sinyal bahwa mereka akan menaikkan harga BBM (bahan bakar minyak). Nah, jadi itu yang akan sangat berdampak langsung ke kita,” kata Welmart dikutip dari Antara.
Dampak buruk dari perang ini untuk pasar pelumas di Indonesia ini diyakini oleh dia, tidak terjadi secara langsung. Menurut dia, dampak ini bakal terasa ketika pada saat memasuki fase minggu kedua atau ketiga.
Dampak kenaikan ini dikarenakan Iran telah menutup Selat Homruz yang menjadi lintasan penting barang-barang impor dari berbagai belahan dunia. Lintasan ini dianggap begitu penting, karena 20-30 persen pasokan minyak dunia melintasi jalur ini.
Welmart melanjutkan bahwa ketika lintasan yang biasa dilalui itu ditutup, pasokan bahan-bahan vital yang dibutuhkan oleh pelumas tersebut harus menggunakan jalur lain yang cukup jauh dan memiliki biaya yang cukup tinggi.
“Banyak raw material kita itu impor. Base oil-nya kita impor, aditif juga impor. Berarti, otomatis kalau supply-nya terganggu, rute logistiknya makin jauh dan otomatis harga pasti akan naik,” ujar dia.
