Harga Minyak Naik ke US$ 91 per Barel Usai Prospek Damai AS-Iran Meredup
Harga minyak acuan dunia kembali naik usai prospek penyelesaian perang AS-Iran dalam waktu dekat semakin meredup. Hal ini ditandai dengan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan dia tidak tertarik memperpanjang kesepakatan damai yang akan berakhir dengan Teheran.
Harga minyak Brent naik 0,3% menjadi US$ 91,16 per barel pada pukul 08.11 waktu Singapura. Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 0,5% menjadi US$ 84,90 per barel.
Harga minyak mentah telah menguat hampir 50% tahun ini seiring berlangsungnya perang yang menghambat arus energi dari Timur Tengah. Kendati demikian, perdagangan minyak dari kawasan tersebut mulai berjalan, hal ini ditandai oleh Arab Saudi yang menawarkan kargo minyak dari luar titik sempit tersebut.
AS dan Iran sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman terkait gencatan senjata di Timur Tengah. Kesepakatan tersebut diteken pada Juni dan berakhir pekan ini. Bloomberg mencatat, kedua pihak saat ini masih memiliki perbedaan yang jauh dalam berbagai isu, termasuk Selat Hormuz.
Tak hanya dengan AS, Iran juga dalam proses negosiasi dengan Oman terkait pengelolaan Selat Hormuz. Perundingan ini tidak melibatkan AS di dalamnya. Trump telah mengancam akan mengebom Oman jika negara tersebut menghalangi blokade AS di jalur perdagangan itu.
Pejabat lainnya mengisyaratkan Washington tidak terburu-buru mengakhiri konflik yang kini mendekati akhir bulan keenam. Menteri Energi Chris Wright mengatakan bahwa AS menerapkan strategi jangka panjang terhadap Republik Islam Iran, sementara utusan Jared Kushner mengatakan Trump akan bersabar dalam mencapai kesepakatan.
“Ancaman Trump terhadap Oman, serta penolakannya terhadap urgensi untuk mencapai gencatan senjata baru, mendorong pedagang minyak untuk membawa kontrak berjangka Brent menembus level tertinggi pekan lalu. Ada alasan untuk berpikir bahwa kenaikan harga masih berpeluang berlanjut,” kata Kepala riset di Pepperstone Group Ltd. Chris Weston dikutip dari Bloomberg, Selasa (18/8).
AS sebelumnya telah menyatakan ingin menggunakan tekanan ekonomi untuk memaksa Teheran menyerah. Rencana ini berpotensi mengalihkan fokus dari kekuatan militer meskipun AS tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Pekan lalu, Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan langkah-langkah baru AS yang belum pernah terlihat sebelumnya akan segera diumumkan.
Selain kondisi Timur Tengah, para pedagang juga akan mencermati data terbaru mengenai persediaan minyak AS, setelah data pekan lalu menunjukkan persediaan secara mengejutkan meningkat ke level tertinggi dalam sekitar dua bulan.
