Harga Minyak Tembus US$ 100 per Barel Lagi, Perang AS-Iran dan Cina Jadi Pemicu

Mela Syaharani
9 September 2026, 16:16
harga minyak, perang iran-as, cina,
Zukiman Mohamad/Pexels
Ilustrasi kilang minyak lepas pantai
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga minyak acuan dunia, Brent kembali menembus US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli 2026. Hal ini terjadi seiring berlangsungnya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta lonjakan pembelian minyak oleh Cina.

Harga Brent naik 2,2% menjadi US$ 100,06 per barel pada pukul 15.39 WIB. Sementara itu harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 1,8% menjadi US$ 94,71 per barel.

Harga Brent telah naik lebih dari 60% sepanjang tahun ini. Namun, di luar lonjakan singkat pada Juli, harga kontrak berjangka Brent telah diperdagangkan di bawah US$ 100 selama lebih dari tiga bulan karena negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk Persia berhasil meningkatkan ekspor.

Di sisi lain, harga produk olahan minyak seperti solar (diesel) naik jauh lebih tajam. Hal ini terjadi ketika konflik di Timur Tengah meluas ke Laut Merah di dekat Arab Saudi, bersamaan dengan perang Rusia-Ukraina. Kenaikan harga ini secara bersamaan berpotensi memicu babak baru tekanan inflasi yang harus dihadapi bank sentral di seluruh dunia.

Dalam eskalasi terbaru di Timur Tengah, militer AS menghancurkan lima kapal tanker Iran sebagai respons terhadap upaya menyerang kapal perang Angkatan Laut AS menggunakan rudal balistik pada malam sebelumnya.

“Fundamental produk minyak tetap bullish dengan persediaan dan cadangan global yang terus memburuk. Dalam pola yang umum terjadi, AS dan Iran terus melakukan serangan balasan serta mengeluarkan peringatan,” kata Managing Director bidang komoditas di Bannockburn Capital Markets, Darrell Fletcher dikutip dari Bloomberg, Rabu (9/9).

Sebelum perang Iran, sekitar seperlima minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati Selat Hormuz menuju pasar global. Konflik tersebut telah mengganggu arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang penting bagi perdagangan energi global. 

Kendati demikian, jutaan barel minyak per hari masih terus melintasi jalur tersebut, melalui pengangkutan kapal tanker yang mematikan sinyal pelacaknya. Meskipun bisa melintas, kapal-kapal tersebut menghadapi ancaman serangan yang terus berlangsung. 

Di saat yang bersamaan Cina mulai meningkatkan jumlah pembelian minyak mentah. Cina sempat menjeda pembelian minyak pada awal perang Timur Tengah terjadi, keputusan ini mampu menahan kenaikan harga minyak di fase awal perang.

Namun dengan kembali aktifnya Cina untuk membeli minyak, membuat sejumlah indikator utama pasar minyak berada di level terkuat dalam beberapa pekan. Seperti yang diketahui, Cina merupakan salah satu negara pengimpor minyak terbesar di dunia.

Gangguan yang terus berlangsung di Timur Tengah menyebabkan persediaan minyak global terus menurun. Perusahaan analitik Vortex Memperkirakan jumlah minyak yang berada di kapal-kapal di laut telah turun lebih dari 150 juta barel sejak pertengahan Juli.

Militan Houthi di Yaman juga terus menyerang fasilitas energi di Arab Saudi. Kelompok tersebut dalam beberapa pekan terakhir melancarkan serangkaian serangan terhadap kilang Jazan milik Arab Saudi yang memiliki kapasitas pengolahan sekitar 400.000 barel per hari. Hal ini mengancam pasar bahan bakar olahan yang sudah ketat.

“Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan yang berkelanjutan dan merusak akibat eskalasi konflik antara AS dan Iran meningkat secara signifikan. Tekanan inflasi akan memengaruhi permintaan minyak, tetapi untuk saat ini pasokan belum mampu mengimbangi permintaan,” kata Analis di perusahaan pialang PVM, Tamas Varga.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...