Harga Minyak Brent Tembus US$108 per Barel, Dipicu Perang Houthi-Arab Saudi
Harga minyak acuan dunia Brent mencapai US$ 108 per barel. Hal ini terjadi setelah pertempuran antara kelompok Houthi yang berbasis di Yaman dan pasukan yang didukung Arab Saudi semakin intensif. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan yang lebih serius, seiring meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.
Minyak Brent, yang menjadi patokan global, harganya naik 0,5% menjadi US$ 108,13 per barel pada pukul 08.18 waktu Singapura. Kontrak berjangka Brent telah naik hampir 13% sepanjang pekan ini. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 0,6% menjadi US$ 103,05 per barel.
Kelompok Houthi yang didukung Iran telah bergerak maju menuju wilayah pesisir yang berbatasan dengan Selat Bab al-Mandeb. Hal ini dilakukan setelah berhasil menguasai Pelabuhan Mokha, yang berada di dekat ujung selatan Laut Merah.
Pemberontak Houthi membuka front baru dalam konflik pada Juli dengan mengancam seluruh kapal yang singgah di pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi. Pemerintah Arab Saudi mengatakan produksi minyak negaranya kembali anjlok pada bulan lalu dan mencapai level terendah sejak 1990.
“Dimulainya kembali perang besar-besaran antara Arab Saudi dan Houthi berpotensi menjadi katalis bagi skenario harga minyak tinggi yang kami perkirakan,” kata analis RBC Capital Markets LLC, dikutip dari Bloomberg, Jumat (11/9).
Pertempuran di Timur Tengah semakin intensif dalam dua pekan terakhir. Kondisi ini mencakup serangan Houthi terhadap fasilitas energi Arab Saudi yang memaksa penghentian sementara sejumlah operasi, serta serangan Amerika Serikat terhadap kapal tanker minyak Iran. Tak hanya itu, peningkatan pembelian minyak mentah oleh Cina belakangan ini juga turut memperketat pasar minyak.
Iran dan Amerika Serikat bersiap menghadapi konflik berkepanjangan, hanya ada sedikit tanda-tanda gencatan senjata dalam waktu dekat atau kembalinya arus energi Timur Tengah ke kondisi normal.
Harga minyak Brent telah melonjak hampir 80% sepanjang tahun ini. Meski demikian, harga tersebut masih berada di bawah level tertinggi selama perang, yakni sedikit di atas US$ 126 per barel yang dicapai pada April.
Tak hanya minyak, harga gas alam Eropa juga meningkat, sementara produk olahan minyak seperti diesel mencatat kenaikan yang bahkan lebih tajam. Kondisi tersebut diperparah oleh perang Rusia-Ukraina.
“Pelaku pasar tampaknya sedang merevisi ekspektasi mereka mengenai durasi perang di Iran-AS,” kata ekonom komoditas di Capital Economics Ltd., Hamad Hussain.
Menurutnya dengan persediaan minyak global yang telah menipis dan permintaan Cina yang menunjukkan tanda-tanda awal pemulihan, gangguan baru terhadap arus minyak dari Timur Tengah berpotensi mendorong harga kembali mendekati level tertinggi baru-baru ini.
Walaupun Timur Tengah memanas, namun sebagian pasokan minyak masih terus dikirim keluar dari kawasan Teluk Persia. Pengiriman ini sering kali menggunakan kapal tanker yang mematikan transpondernya untuk menghindari deteksi.
Kendati demikian, kapal-kapal tersebut tetap menghadapi ancaman serangan yang terus-menerus. UK Maritime Trade Operations menerima laporan ada dua kapal terkena proyektil yang belum teridentifikasi di sebelah barat Khasab, Oman, pada 10 September. Peristiwa tersebut menegaskan masih tingginya risiko terhadap pelayaran di kawasan tersebut.
Terkait perang AS-Iran, Presiden Trump berupaya melumpuhkan perekonomian Iran. Seorang pejabat Iran baru-baru ini mengakui meningkatnya tekanan ekonomi, tetapi mengatakan Teheran harus terus berperang sampai yakin Washington tidak akan kembali melancarkan serangan.
Iran telah mampu membangun kembali kemampuan rudalnya dan akan meningkatkan serangan terhadap aset-aset AS dan negara-negara Teluk jika Washington meningkatkan serangannya.
Dalam lporan Wall Street Journal, para penasihat Gedung Putih, termasuk Wakil Presiden AS JD Vance, telah mengatakan kepada Presiden Donald Trump bahwa perang tersebut dapat berlanjut hingga sisa masa jabatannya, yang berlangsung hingga Januari 2029.
