Harga Minyak Naik jadi US$ 108 per Barel, Dipicu Gangguan Pipa Arab dan Libya
Harga minyak dunia melonjak setelah gangguan pada pipa minyak utama di Arab Saudi dan ladang minyak di Libya menambah risiko di pasar, yang sudah merasakan dampak berkurangnya pasokan akibat perang Timur Tengah.
Harga minyak Brent naik 2,9% menjadi US$ 108,75 per barel. Sementara itu harga West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober naik 4,4% menjadi US$ 105,83 per barel.
Pelaku pasar tengah mencermati potensi berapa lama penutupan East-West Pipeline milik Arab Saudi akan berlangsung. Pipa tersebut dihentikan operasinya pekan lalu setelah serangan pesawat nirawak. Imbas kejadian tersebut, Saudi Aramco menunda pasokan minyak untuk sejumlah pelanggan di Eropa bulan ini.
Pipa tersebut membentang sepanjang Semenanjung Arab dan menjadi jalur penting bagi pasar minyak selama perang Timur Tengah. Sebab fasilitas ini dapat mengirimkan jutaan barel minyak per hari tanpa melalui Selat Hormuz.
Menteri Energi AS Chris Wright, mengatakan gangguan pada pipa tersebut akan berlangsung dalam hitungan hari. Arab Saudi belum menyampaikan kapan aliran minyak akan kembali normal, sementara otoritas Inggris khawatir pipa tersebut mungkin sebagian besar tetap ditutup selama enam pekan.
"Komentar Chris Wright bahwa East-West Pipeline dapat kembali beroperasi dalam hitungan hari, bukan pekan, menahan sebagian kenaikan harga. Namun, pasar memberikan bobot lebih besar pada pasokan minyak dibandingkan pernyataan," kata senior energy trader di CIBC Private Wealth Group, Rebecca Babin, dikutip dari Bloomberg, Rabu (16/9).
Tak hanya pipa Arab, harga minyak juga berpotensi melonjak imbas terjadinya penghentian operasi sejumlah ladang minyak dan kemungkinan akan menyatakan force majeure atas produksi setelah penutupan pipa Hamada-Zawiya.
Harga kontrak berjangka Brent telah naik sekitar tiga perempat sepanjang tahun ini. Gejolak berkepanjangan di Timur Tengah yang terjadi bersama dengan dampak lanjutan dari perang Rusia-Ukraina, telah meningkatkan tekanan inflasi dan mendorong imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun ke level tertinggi sejak 2007.
"Prospek konflik yang berkepanjangan telah terbentuk sejak akhir Juli dan tampaknya mulai menjadi pandangan konsensus," kata energy strategist di Macquarie Group, Walt Chancellor dalam sebuah catatan.
Harga utama untuk minyak mentah fisik, yang dikenal sebagai Dated Brent, melonjak di atas US$130 per barel pekan ini untuk pertama kalinya sejak April. Lonjakan tersebut terjadi ketika pembeli di Eropa berlomba mengamankan sumber pasokan alternatif setelah pipa Arab Saudi ditutup.
Harga kontrak berjangka diesel juga mencapai level tertinggi dalam sesi perdagangan setelah Pemimpin Mayoritas Senat AS John Thune mengatakan dirinya terbuka untuk mengeksplorasi larangan ekspor diesel guna mencoba menurunkan harga di dalam negeri. Namun, para pakar mengatakan kebijakan tersebut justru dapat meningkatkan harga bahan bakar tersebut.
