PLN EMI Kembangkan Bisnis REC Crossborder ke Negara-negara ASEAN

Mela Syaharani
17 September 2026, 19:15
Henri Firdaus, CEO PT PLN Energy Management Indonesia (PLN EMI), dalam Plenary Session \"Decarbonizing Business: Driving ESG Performance and Competitiveness\" di Katadata SAFE 2026, di Jakarta, Kamis (17/9).
Katadata/Fauza Syahputra
Henri Firdaus, CEO PT PLN Energy Management Indonesia (PLN EMI), dalam Plenary Session \"Decarbonizing Business: Driving ESG Performance and Competitiveness\" di Katadata SAFE 2026, di Jakarta, Kamis (17/9).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT PLN Energy Management Indonesia (Persero) atau PLN EMI berencana mengembangkan bisnis Renewable Energy Certificate (REC) secara lintas batas negara (crossborder) ke negara-negara Asia Tenggara.

REC merupakan sertifikat digital resmi yang membuktikan bahwa listrik yang digunakan pelanggan berasal dari pembangkit energi terbarukan seperti tenaga air, panas bumi, atau surya.

Direktur Utama PLN EMI Henri Firdaus mengatakan rencana ini sejalan dengan kesepakatan antar negara yang dilakukan pemerintah.

“Kami akan memberlakukan cross-border untuk REC, di sini nantinya negara-negara tetangga yang bersinggungan seperti Singapura, Malaysia, Papua Nugini, dan Timor Leste,” kata Henri dalam sesi diskusi panel ‘Decarbonizing Business: Driving ESG Performance and Competitiveness" Katadata SAFE 2026 di Jakarta, Kamis (17/9).

Mereduksi Emisi 16,29 Juta Ton CO2e

Untuk memasarkan REC ke negara lain,  PLN tidak berfokus pada strategi harga agar kompetitif, namun lebih mengejar seperti apa kebutuhan pelanggan. Dia menyebut jumlah REC yang terjual PLN telah mencapai 20,72 terawatt per jam (TWh). Hal ini dihitung sejak 2021, ketika pertama kali REC diluncurkan.

“Ini jumlahnya cukup luar biasa, dari 20,72 TWh itu, kami sudah mereduksi emisi sebesar 16,29 juta ton CO2 ekuivalen,” ujarnya.

Henri mengatakan saat ini dengan 323 ribu pelanggan industri dan 5 juta pelanggan bisnis dapat menjadi kesempatan atau peluang perusahaan untuk lebih mengembangkan REC. Salah satu peluang yang dilihat perusahaan adalah REC berbasis waktu yakni REC hourly-matching. 

REC ini dihitung untuk pelanggan yang menginginkan pencatatan sumber energi hijau secara mingguan ataupun harian.

“Ini sejalan nantinya dengan pembangunan pusat data yang sangat masif di Indonesia nantinya, mereka harus menyesuaikan dengan pemakaian energi bersih. Jadi ini merupakan solusi tepat bagi pusat data untuk menggunakan produk REC berbasis waktu,” ucapnya.

Dia menyebut produk REC merupakan model bisnis baru yang dikembangkan sebagai bagian dari dekarbonisasi. Henri mengatakan perusahaan membuka diri untuk bisa memanfaatkan momentum tersebut. Terlebih dengan adanya pernyataan pemerintah bahwa jumlah karbon di Indonesia cukup melimpah.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...