Harga Minyak Turun di Bawah US$ 100 per Barel, Arus Minyak Timur Tengah Mendekat
Harga minyak acuan dunia turun di bawah US$ 100 per barel pada Kamis (1/10). Analis Wall Street dan pedagang mengatakan arus minyak mentah dari Timur Tengah mendekati level sebelum perang, meskipun pasokan bahan bakar gagal pulih dalam tingkat yang sama.
Harga Brent US$98,21 per barel pada pukul 08.18 waktu Singapura. Sementara harga minyak west texas intermediate US$ 90,42 per barel.
Harga minyak cenderung naik dalam tiga bulan terakhir. Hal ini disebabkan karena AS dan Iran gagal mencapai kemajuan menuju kesepakatan damai jangka panjang yang dapat sepenuhnya membuka kembali Selat Hormuz.
Presiden Donald Trump mengatakan di Gedung Putih bahwa AS memiliki kendali penuh atas jalur perairan tersebut dan akan segera memberikan jawaban kepada Iran.
“Pasar mendapatkan sedikit kelegaan dari membaiknya pasokan, tetapi tanpa jalur yang kredibel menuju kesepakatan jangka panjang, kenaikan tersebut bisa bersifat sementara. Lebih banyak barel yang mengalir pada pekan ini tidak menjamin arus yang sama pada pekan depan,” kata senior energy trader di CIBC Private Wealth Group, Rebecca Babin, dikutip dari Bloomberg, Kamis (1/10).
Bloomberg menyebut saat ini sulit menentukan jumlah pasokan minyak yang dikirim produsen Teluk ke pasar global imbas perang AS-Iran. Kondisi tersebut diperparah oleh serangan terhadap kapal dagang serta serangan terhadap pipa East-West Arab Saudi.
Kendati demikian, Goldman Sachs Group Inc. memperkirakan sekitar 23 juta barel minyak per hari meninggalkan Timur Tengah dalam sepekan terakhir, baik melalui Hormuz maupun jalur ekspor lainnya seperti Laut Merah. Jumlah tersebut sejalan dengan rata-rata tahun lalu.
Negosiasi menuju perdamaian Timur Tengah sudah berlangsung berbulan-bulan. Tensi kedua negara juga mengalami naik-turun untuk mengakhiri perang.
Dimulai oleh serangan AS dan Israel ke Iran Februari lalu yang membuat kontrak berjangka minyak rentan terhadap pergerakan besar, sehingga menyulitkan pedagang untuk mengambil posisi menghadapi perubahan harga yang signifikan. Selain itu, terjadi kekurangan pasokan yang cukup besar di pasar bahan bakar, yang menopang permintaan minyak mentah karena kilang berupaya memproduksi sebanyak mungkin.
Data persediaan minyak AS yang diterbitkan oleh Energy Information Administration tidak membantu memperjelas kondisi tersebut. Persediaan distilat berada pada level musiman terendah sepanjang sejarah, menurut lembaga tersebut.
Hal ini terjadi di tengah spekulasi mengenai kemungkinan Gedung Putih akan memberlakukan larangan ekspor diesel secara langsung. Persediaan bensin di wilayah Midwest AS juga berada pada level terendah yang pernah tercatat.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan kepada Bloomberg bahwa negara-negara Eropa akan segera mengumumkan pasokan diesel baru yang akan masuk ke pasar. Sementara itu, Trump mengatakan dirinya sedang mempertimbangkan potensi dampak negatif dari larangan ekspor terhadap bahan bakar tersebut.
