Produksi Tambang Grasberg Freeport Pulih 67% Usai Longsor Tahun Lalu
Freeport McMoran (FCX) mencatat jumlah produksi tambang bawah tanah milik PT Freeport Indonesia (PTFI) Grasberg Block Cave (GBC) sudah mencapai 70 ribu ton. Tambang tersebut sebelumnya telah mengalami longsor yang menewaskan beberapa karyawan di September 2025.
Usai longsor tersebut, tambang berhenti beroperasi sementara. Namun, menurut laporan perusahaan induk PTFI yakni FCX tambang tersebut sudah mulai beroperasi kembali.
“Selama kuartal ketiga 2026, throughput penggilingan rata-rata sekitar 140.000 metrik ton bijih per hari atau sekitar 67% dari tingkat normal sebelum insiden September 2025. Termasuk sekitar 70.000 metrik ton bijih per hari yang berasal dari GBC,” tulis FCX dalam laporan perusahaan, dikutip Senin (5/10).
FCX menulis, peningkatan sistem penanganan material di level pengangkutan GBC terus berjalan menuju penyelesaian pada awal 2027. Pada pertengahan 2027 perusahaan menargetkan produksi dari Block 1S dapat dimulai kembali.
Perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat ini tetap memperkirakan dapat mencapai 80% kapasitas produksi pada pertengahan 2027 dan mendekati kapasitas penuh pada akhir 2027.
Tak hanya tambang, longsor di GBC juga membuat fasilitas pemurnian atau pengolahan (smelter) tembaga PTFI berhenti operasi, sebab tidak ada pasokan bijih yang bisa diolah. Kendati demikian, smelter ini telah kembali beroperasi pada akhir Agustus 2026.
“Kegiatan peningkatan kapasitas berjalan sesuai ekspektasi. PTFI memiliki kapasitas peleburan gabungan, termasuk PT Smelting, untuk memproduksi hingga sekitar 800.000 metrik ton katoda per tahun serta fasilitas pemurnian logam mulia yang mampu memproses seluruh produksi emas PTFI,” ujar FCX.
Smelter Tembaga
Presiden Direktur PTFI Tony Wenas sebelumnya mengatakan longsor GBC membuat jumlah produksi tambang turun sehingga perusahaan hanya bisa memasok bijih tembaga ke smelter pertama mereka yakni PT Smelting. Sementara Smelter Manyar tidak mendapatkan pasokan.
“Mulai Agustus 2026 kami mulai pasok ke smelter baru kami, jumlah produksi di bulan ini sekitar 5.000 ton katoda tembaga,” kata Tony dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Selasa (15/9).
Pada Oktober 2026, perusahaan memproyeksi jumlah pengolahan Smelter Manyar dapat meningkat menjadi 35 ribu ton katoda tembaga. Di akhir 2026, Smelter Manyar diprediksi menghasilkan 57 ribu ton tembaga. Kenaikan jumlah pengolahan smelter baru akan terjadi pada 2027.
Tony sebelumnya menyatakan kondisi longsor di GBC membuat tingkat produksi PTFI turun menjadi sekitar 30% atau 65 ribu-70 ribu ton per hari, jauh di bawah kapasitas normal 200 ribu ton.
Smelter Freeport Indonesia di Manyar, Gresik, itu memiliki kapasitas terpasang pemurnian hingga 1,7 juta ton konsentrat tembaga dan 6.000 ton lumpur anoda per tahun. Pabrik ini dapat mengolah lumpur anoda menjadi beberapa logam berharga, seperti emas, perak, platinum paladium, selenium, bismut, dan timbal.
Target operasi smelter ini sebetulnya mundur dari perkiraan awal. Pada November 2025, Tony menargetkan fasilitas ini bisa beroperasi pada kuartal II 2026. Selain smelter, Tony juga menjelaskan progres tambang GBC yang mengalami longsor tahun lalu. Pada semester I 2026, progres pemulihan tambang tersebut bisa mencapai 65%.
