Harga Minyak Naik di Tengah Serangan Iran ke Kapal yang Melintas Selat Hormuz

Mela Syaharani
7 Oktober 2026, 08:29
harga minyak dunia, iran, selat hormuz,
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa.
Aktivitas Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) di Perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Selasa (14/6/2022).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga minyak acuan dunia naik di tengah meningkatnya serangan Iran terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz. Hal ini membuat para pedagang bimbang akan keputusan untuk meningkatkan pengiriman melalui jalur tersebut.

Harga Brent naik 0,9% menjadi US$ 101,44 per barel pada pukul 08.18 waktu Singapura. Sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 0,8% menjadi US$ 90,18 per barel.

“Teheran menyerang sejumlah kapal, tetapi tidak cukup untuk menghentikan arus minyak dan gas,” kata Wakil Presiden AS JD Vance dikutip dari Bloomberg, Rabu (7/10). 

Walaupun ada serangan, Washington tetap membuka potensi kesepakatan dan pembicaraan dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian serta Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.

Meski pengiriman melalui Hormuz meningkat dalam beberapa pekan terakhir, UK Maritime Trade Operations telah melaporkan sedikitnya sembilan serangan di jalur perairan tersebut sepanjang bulan ini. Jumlah itu sudah mencapai setengah dari total serangan di Selat Hormuz dan Teluk Persia secara gabungan pada September.

Harga minyak mentah telah melonjak tajam tahun ini karena perang AS-Iran mengganggu arus energi dari Timur Tengah, yang memicu inflasi. Sejumlah eksekutif perusahaan minyak terkemuka, termasuk CEO Shell Plc Wael Sawan, memperingatkan pekan ini dunia kehabisan langkah sementara untuk mengelola dampak konflik, dengan persediaan global terus berkurang dan harga produk, termasuk solar, masih tinggi.

“Pasar mulai percaya barel minyak masih dapat terus mengalir, yang menjadi alasan kita melihat sebagian premi geopolitik mulai hilang. Namun, persediaan yang menipis dan pasokan solar yang ketat menandakan pasar fisik memiliki bantalan yang jauh lebih kecil dibandingkan angka ekspor yang ada,” kata Chief Investment Officer di Karobaar Capital LP, Haris Khurshid.

Shell mengatakan arus minyak dari Timur Tengah telah pulih menjadi sekitar 80% dari volume sebelum konflik. Sementara itu Vitol Group menyebut sekitar 12 juta barel per hari minyak mentah telah keluar dari selat tersebut selama tujuh hingga 10 hari terakhir. Secara terpisah, Arab Saudi mengatakan pihaknya memompa 5,8 juta barel per hari melalui pipa lintas negara menuju Laut Merah.

Hari ini Badan Energi Internasional (IEA) dijadwalkan mengadakan pembicaraan awal mengenai rencana pelepasan pasokan darurat hingga 100 juta barel dari persediaan solar dan minyak mentah yang dijanjikan para pemimpin negara-negara G7 pada pekan lalu. Pembicaraan tersebut akan memberikan kejelasan mengenai kelanjutan rencana tersebut.

Berdasarkan perkiraan dari American Petroleum Institute yang didanai industri dan dilihat Bloomberg, di AS persediaan minyak mentah turun 2,1 juta barel pada pekan lalu. Data tersebut juga menunjukkan penurunan persediaan bensin, sementara persediaan produk distilat meningkat. Data resmi akan dirilis pada Rabu nanti.

Awal pekan ini Presiden Donald Trump melonggarkan aturan mengenai penggunaan solar, sehingga pengemudi truk diperbolehkan menggunakan bahan bakar yang biasanya diperuntukkan bagi traktor.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...