Harga Minyak Naik selama Dua Pekan Terakhir Seiring Eskalasi Timur Tengah

Mela Syaharani
16 Oktober 2026, 08:30
Harga minyak
ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/foc.
Foto udara Kapal Tanker MT Kasim membawa bantuan dan BBM dari dermaga Integrated Terminal Teluk Kabung, Padang, Sumatera Barat, Sabtu (6/25/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga minyak acuan dunia mengalami tren kenaikan untuk pekan kedua selama berturut-turut. Hal ini terjadi seiring meningkatnya risiko pasokan dari Timur Tengah yang mengimbangi pelepasan baru cadangan minyak darurat.

Meski ada tren naik, harga minyak hari ini justru tercatat turun tipis. Harga Brent turun 0,4% menjadi US$ 105,52 per barel pada pukul 08.11 waktu Singapura. Sementara itu harga West Texas Intermediate (WTI) turun 0,6% menjadi US$ 97,43 per barel.

Kenaikan harga WTI melampaui Brent sepanjang pekan ini sehingga mempersempit selisih harga kedua acuan tersebut. Hal ini akibat penurunan biaya pengiriman minyak mentah Amerika Serikat yang mendorong permintaan. Berdasarkan data Baltic Exchange di London, biaya pengiriman satu kargo minyak mentah AS pada umumnya dari Pantai Teluk AS ke Rotterdam telah turun sekitar 12% selama sepekan terakhir.

Sementara itu negara-negara anggota Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) berjanji untuk menuntaskan pelepasan 100 juta barel minyak yang masih tersisa dari intervensi pada Maret, setelah adanya lobi dari pejabat AS. 

Presiden Donald Trump tengah berupaya menekan tingginya harga bensin dan lonjakan harga solar di dalam negeri. Kenaikan biaya energi akibat perang AS terhadap Iran menjadi salah satu kekhawatiran utama pemilih menjelang pemilihan paruh waktu bulan depan.

“Konflik tersebut kemungkinan akan meningkat. Mereka menaikkan probabilitas eskalasi konflik menjadi 65% dari sebelumnya 35%. Situasi kebuntuan yang ada saat ini tidak lagi dapat dipertahankan oleh AS,” kata para analis Eurasia Group dalam sebuah catatan, dikutip dari Bloomberg, Jumat (16/10).

Tak hanya itu, eskalasi Timur Tengah terus terjadi yang membuat tingkat ketidakpastian pemulihan arus pasokan fisik dari Teluk Persia tetap tinggi. Terlebih setelah Komando Pusat Amerika Serikat mengonfirmasi sebuah kapal kontainer GFS Pride berbendera Singapura yang tenggelam di Selat Hormuz pekan ini terkena proyektil Iran.

Meskipun terjadi serangan tersebut, lebih dari 40 kapal telah melintasi Selat Hormuz selama 24 jam terakhir, yang mengindikasikan bahwa arus pelayaran masih berlangsung. Di tempat lain, persediaan minyak mentah AS turun 8,6 juta barel pada pekan lalu, penurunan terbesar sejak Februari.

Menurut Badan Informasi Energi AS, penurunan ini sebagian disebabkan oleh penghentian sementara produksi akibat Badai Isaias, tingginya aktivitas pengolahan kilang, serta ekspor. Persediaan produk distilat turun 2,5 juta barel hingga mencapai level terendah baru untuk periode musiman tersebut.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...